Siapa yang ingin kalah? Setiap orang ‘waras’ pasti menginginkan kemenangan. Apalagi, sesuatu itu telah sangat-sangat-sangat diusahakan. Tapi, kadang ending bukanlah hak paten dari para aktor (manusia). Ada ‘sutradara’ yang memiliki hak priogatif untuk memutuskan. Hem, rasanya. Aku berhenti bernapas hari ini. Ya, tepatnya beberapa menit sebelum aku mem-postingkan tulisan ini di blog-ku. Ah...aku benci. Tapi mau bagaimana lagi. Toh, sebenci apapun aku, tidak akan membuat namaku bertengger di daftar para juara! masyaAllah, begitu sensitifkah hatiku saat ini?
Amboi! Dua! Bukan main, dua kekalahan yang aku kantongi malam ini. Masih bisakah aku tidur nyeyak? Masih bisakah aku pede dengan mimpiku yang terlalu tinggi itu? Masih bisakah aku membuat diriku percaya dengan kemampuanku? Masihkan? Entahlah.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya, hal remeh temeh apa yang membuat aku seperti aki-aki kebakaran jenggot! Hal remeh apa yang membuat aku ngotot dan bahkan melotot melihat daftar pemenang, tak ada satu suku kata pun bertuliskan aku. Tega nian! Sungguh! Tapi, apa ada kemenangan karena rasa kasihan. Kasihan padaku yang sudah rela-rela mengencangkan ikat pinggang demi membayar kontribus lomba. Tidak ada dan jangan harap akan ada.
Baiklah. To the point saja. Aku akan membahas kekalahanku yang pertama di ajang yang kuanggap paling remeh di dunia, LOMBA KLIPING BERITA, namanya. Em, sepertinya sangat mudah dan pastinya haya sedikit yang ikut. Itu artinya, peluang untuk menang sangat banyak. Tapi hari ini, malam ini, saat kubuka website s yang empunya hajatan lomba, seorang GADIS CANTIK dengan SENYUM MENAWAN dan body ala MODEL tengah berjabat tangan pada ketua panitia. Em, rupanya, gadis itu menang. Luaaaarrr biasa. Sudah good looking, menang pula. Beruntungnya engkau. Tapi, aku heran, mengapa berita itu ditulis tadi pagi, Minggu siang di sebuah tenda. Bukankah si penyelenggara mengatakan kalau pengumunan akan disebarka besok. Em, hatiku bisa langsung kisut mendadak saat kutahu pengumumannya sudah dilakukan hari ini. Lalu, buat apa menuliskan dengan gaya perlente bahwa pengumumannya besok dan pengambilan hadiah besoknya lagi. Itu hanya akan mempermainkan hati seorang pecundang macam diriku saja, para juri yang terhormat.
Sudahlah. Mungkin belum rejeki. Suara hatiku berusaha menenangkan. Berusaha menghibur. Berusaha membuat seolah ini hanyalah bagian dari ujian orang sukses. Hatiku...timbul rasa malas untuk berkompetisi-lagi-.
Lomba yang kedua adalah lomba Essai. Aku mengikutinya, pertama karena aku yakin tulisanku layak dimuat, kedua, karena kontribusinya murah Rp 10.000- tapi, namaku lagi-lagi tak ada. Semua nama yang tertera dalam daftar pemanang sangat asing. Mungkinkah tak ada tempat lagi bagi mahasiswa semester 7 sepertiku? Ya Allah, hamba menjadi ragu dengan kemam[uan hamba. Hamba menjadi gusar dengan masa depan hamba di dunia menulis. Pikirku, mereka semua angkuh. Para penerbit, para juri, para pemenang, juga hatiku. Aku pun angkuh. Aku sendiri tidak tahu tapi..aku seperti tidak kapok-kapoknya. Mungkin aku harus berpikir sederhana saja. Membuang mimpi dan menjadi orang desa! Itukah yang diinginkan waktu sekarang. Itukah yang diinginkan dedemit-dedemit intelek yang tidak memberiku kesempatan untuk menang? Ah...aku ini terlalu sensitif. Terlalu berduka, padahal mungkin Allah sudah menyiapkan segalanya dan akan menjadikan ini semua indah. Bersabarlah.
Jika kesenangan adalah cahaya matahari dan kesedihan adalah hujan yang turun, Maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi
Minggu, 30 Oktober 2011
Selasa, 06 September 2011
Laptop

Laptop
Oleh
Dwi Permatasari
“Berapa penghasilan orang tua Anda per bulan? Apa pekerjaan orang tua Anda? Berapa jumlah keluarga Anda? Dimana Anda tinggal?” berondong pertanyaan yang keluar dari mulut pegawai cash and credit itu membuat mulutku terkatup. Aku tertunduk lesuh. Uang dua ratus ribu yang tadinya ingin kuserahkan sebagai setoran pertama, kugenggam erat-erat. Aku terdiam. Namun kedua telingaku mendengar jelas setiap kata yang keluar dari mulut pegawai cash and credit yang baik hati itu.
“Bagaimana? Jadi kapan kami bisa monitoring ke rumah Anda?” tanyanya sekali lagi.
Aku terkejut dengan pertanyaannya. Lebih terkejut lagi dengan sikapnya yang tidak bisa mendengar suara hatiku yang menjerit. Oh...alangkah panjang prosedur yang harus dilewati demi sebuah kata ‘ya’ untuk suatu hal yang bernama kredit. Kubayangkan empat pegawai cash and cerdit itu mampir ke rumah kami yang tak berbentuk. Ah..kasihan sekali mereka. Harus melewati gang-gang yang sempitnya minta ampun dan harus rela mencium bau comberan yang mengalir dari selokan yang buntu. Mereka juga harus rela berbecek-becek ria. Kalau mereka ingin pipis, mereka harus berjalan ke empang yang jaraknya 10 meter dari rumah kami. Sebelum itu, mereka harus menggulung celana jeans setinggi 30 centi. Jika tidak, siap-siap saja celana jeans mereka akan basah gara-gara air sungai yang pasang. Cukup!
“Silakan isi formulir persetujuan ini. Maaf, dengan Mbak siapa?”, tanyanya sambil memegang pena, mengambil ancang-ancang untuk menulis namaku yang teramat sederhana.
“Siapa Mbak?”, suaranya terdengar renyah di telinga.
Aku masih bengong. Sementara, pegawai yang berada di depanku ini masih bersikap sama, tersenyum.
“Siti.”, kataku spontan.
“Maaf Mbak Tika.” Kali ini, aku menyebut namanya yang tertera di seragam yang ia pakai.
“Kenapa?”
“Saya ada urusan. Mungkin lain kali saja saya ambil kredit di sini.”
“Apa? Tidak jadi?” katanya setengah melotot.
“Iya, Mbak. Mungkin lain kali saya ke sini lagi. Saya tadi cuma mau nanya.” Aku menutup kalimatku dan angkat kaki dari ruko dua lantai itu.
Kutinggalkan kursi empuk untuk pelanggan cash and credit yang baru saja kududuki. Wajah ramah Mbak Tika tiba-tiba berubah seperti sayur asam yang dimasak kemarin sore lengkap dengan omelan-omelannya. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menambah lipstik merah marun di bibirnya dan memoles bedak padat di wajahnya yang oriental. Mungkin untuk membuang sial atas kedatanganku yang hanya menghabiskan waktunya dengan bertanya ini itu tanpa kepastian untuk membeli atau kredit. Maafkan aku Mbak Tika. Aku tidak ingin kalian rugi hanya untuk mengetahui keadaan rumahku dan memutuskan apakah aku layak diberi kredit atau tidak. Ah..tidak perlu repot-repot. Aku sudah tahu jawabannya.
Rintik-rintik hujan mengiringiku menuju halte. Kupangang langit yang mendung. Ada rasa kecewa yang menusuk-nusuk.
Kubiarkan baju dan jilbabku basah ditimpa rintik hujan yang kian deras. Biar. Biarkan hujan membasahiku. Asalkan jangan ada setetas air mataku yang jatuh. Hari ini, satu mimpiku telah ambruk. Impianku untuk memiliki laptop usai sudah. Ternyata, kreditan laptop tak semudah yang aku bayangkan. Tak sagampang yang diucapkan orang-orang, juga tak seenteng seperti yang tertulis pada brosur yang aku temukan seminggu yang lalu.
Kupandangi langit sore yang kelabu. Rintik hujan jatuh satu per satu. Kucoba mengukir senyum di wajahku yang basah kuyub. Ah...betapa sulitnya itu kulakukan saat ini.
Di halte yang sepi, aku sendiri dengan angan-anganku untuk membeli laptop. Laptop. Benda itu telah menjadi obsesiku. Benda itu telah membuatku tak bisa tidur. Benda itu selalu menggerakkan otot-ototku untuk bekerja agar suatu hari nanti aku bisa memilikinya. Sejak awal masuk kuliah hingga sekarang, aku masih terobsesi dengan keinginanku itu. Amboi, alangkah bahagianya ketika jari-jariku menekat keypad dan menuliskan semua ide yang aku punya. Alangkah bahagianya ketika tugas-tugas kuliah dapat segera dikerjakan, tidak harus repot-repot ke rental komputer segala. Alangkah bahagianya jika menulis skripsi dengan laptop yang bisa dibawa ke mana saja.
“Siti!!”, seru seseorang memanggil namaku.
Aku menoleh. Kulihat sosok Kirana yang berdiri memakai payung. Ia menuju halte.
“Dari mana, Sit?”, tanyanya setiba di halte.
Kirana. Gadis yang paling beruntung di dunia. Dia anak panti asuhan yang diadopsi pengusaha kaya raya. Kami pernah satu kelas di SMA.
“Dari mana, Sit?”, tanya Kirana lagi.
“Dari toko buku, Kir.”, jawabku berbohong.
“Ke toko buku?”
“Iya.” Jawabku dengan berbohong untuk kedua kalinya.
“Kalau begitu, lain kali main ke toko bukuku saja. Di jalan Sudirman dekat Momo Bakery.”, terang Kirana.
Aku tersenyum. Senyum yang pahit.
“Ini brosur toko bukunya.”, ucap Kirana dan menyerahkan selembar brosur full colour lengkap dengan foto dirinya yang rupawan.
Kirana Book Centre. Nama yang menjual. Aku lalu membayangkan namaku yang tertera di plang sebuah toko buku, Siti Book Centre. Ah...kenapa terdengar aneh. Apa karena namaku sudah dinobatkan sebagai icon suatu makanan, seperti Nasi Uduk Bu Siti, Lontong Ayam Bu Siti, Kantin Bu Siti. Ah..ada-ada saja aku ini.
“Siti, mau pulang bareng nggak?”
“Nggak, Kir. Makasih yah.”
Tin..suara klakson marsedes bens terdengar nyaring. Seorang pemuda keluar dari pintu mobil mewah itu dengan payung yag super lebar. Reno.
“Duluan ya Siti.”
“Ya..” jawabku sekenanya.
Baiklah Siti. Mari kita melanjutkan hidup. Lupakan laptop. Lupakan obsesi murahan pada benda itu. Lupakan semua anganmu yang ketinggian itu. Masih untung bisa kuliah!
Aku memarahi diriku sendiri. Aku mengutuki diriku sendiri. Aku pulang dengan perasaan kecewa sedalam-dalamnya dan keinginan untuk bangkit lagi setinggi-tingginya.
***
Keinginanku untuk melupakan laptop hanya di mulut saja. Sampai detik ini, di dalam angkot yang hingar-bingar dengan bau pasar beradu dengan bau keringat para kuli gerobak, aku masih memikirkan laptop. Memikirkan benda yang harganya setara dengan dua tahun panen singkong.
Mungkin, kalau aku tidak berada di kelas yang semua mahasiswanya memakai laptop, aku tidak seobsesif ini. Aku mungkin rela mengantri untuk rental komputer. Tapi..kadang kecemburuan sosial bisa membuat seseorang menjadi gila. Parahnya, akulah korban dari kecemburuan sosial itu. Aku tidak bisa menutupi keinginanku untuk memiliki laptop. Aku sangat membutuhkannya untuk tugas-tugasku, skripsiku, juga menulis kisah cerpen dan novel. Semuanya ingin kuwujudkan jika aku punya laptop.
Aku tidak bisa tenggelam dalam kenyataan kalau aku tidak akan memiliki laptop. Syukur-syukur masih bisa kuliah! Begitu omel ibuku tiap kali aku mengutarakan keinginanku. Jadilah aku stes seorang diri. Ibu benar, orang kecil seperti kami tidak layak berpikir besar dan berangan-angan besar. Ibu mungkin ingin membuka mataku lebar-lebar dan menunjukkan 6 huruf yang harus diingat oleh otakku, yaitu M-I-S-K-I-N.
Tapi aku tidak bisa satu pemikiran dengan ibu. Aku percaya bahwa aku bisa membeli laptop. Seandainya uang beasiswaku tidak dipakai oleh Ibu untuk melunasi hutang-hutangnya dengan Haja Mar, mungkin aku bisa membeli laptop, second pun tak apa!
Tapi, sekali lagi Ibuku benar. Ia melakukan itu karena ia telah berhutang untuk melunasi iuran masuk kuliahku. Aku kembali tertunduk lesuh. Mengapa takdir tak berpihak kepada keluarga kami sedikit pun!
Aku sampai di rumah hampir maghrib. Pasti ibuku kembali mengomel! “Anak gadis pulang maghrib-maghrib! Mau jadi apa!!”, bentaknya dengan suara 8 oktap.
Kubuka pintu kayu pelan-pelan. Benar saja! Ibuku sedang mengisi minyak tanah di lampu teplok.
“Assalamualaikum,”
“Kumsalam.”jawab ibu sekenanya.
Aku langsung ke dapur dan mengambil handuk. Adik-adikku telah pergi bersama ayah ke masjid. Tinggal aku dan ibu di rumah.
Sampai waktu Isya, aku tak mendengar ibu mengomel apa pun. Apa ibu sangat marah sehingga ia tidak ingin bicara padaku lagi?
“Siti..”
“Ya, Bu.”, Aku menyahut cepat. Kutemui ibu yang sedang melipat pakaian.
“Sudah ketemu laptop yang kau inginkan?”
Kalimat itu terdengar asing. Tumben-tumbennya ibu peduli dengan keinginanku.
“Belum, Bu.”
“Syukurlah.”jawabnya singkat.
Alamak! Jadi ibuku ini senang jika anaknya tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Batinku kesal.
Ibu berdiri. Ia mengambil senter dan beranjak menuju lemari satu-satunya di rumah kami. Ia membawa kotak berukuran besar dan nampaknya berat.
“Apa benar ini yang namanya laptop? Ibu kurang tahu betul.”, kata ibu sambil menyerahkan kotak itu padaku.
Aku gemetaran. Apa benar isi di dalamnya adalah laptop atau hanya tumbukan singkong. Kalau benar ini tumpukan singkong, aku akan menyatakan perang dengan ibu!
Kubuka perlahan kotak itu. Ibu membantu menyinari. Aku terdiam. Amboi..ini benar-benar LAPTOP!!!
Aku lekas mengeluarkan semua yang ada di dalam kotak. Masih bau toko! Pasti ini laptop baru! Aku girang minta ampun. Akhirnya, aku bisa menulis skripsi dengan laptop ini. Aku juga bisa online dengan teman-temanku. Selamat tinggal rental komputer. Selamat tinggal warnet! Asyiiik!
“Tapi, rumah kita kan belum ada listrik, Sit.”, tanya ibu polos.
“Tenang, Bu. Siti nyolokin laptopnya di kampus aja. Siti isi penuh baterenya.”
Ibu kini seperti malaikat yang turun dari langit. Siapa sangka dia sangat baik. Aku yang anaknya saja sukar menebak. Kubawa laptop itu ke kamarku yang beralaskan kasur tipis.
Tanpa sadar, aku sudah 4 jam mengutak-atik laptop baruku. Asyik!! Besok pagi akan kulanjutkan di kampus. Tapi, dari dinding bambu kamarku, kudengar suara ibu dan ayah sedang berbicara dengan seseorang. Apa kami ada tamu?
Aku mengintip dari lobang kecil kamarku. Samar-samar, kulihat tamu yang sedang berbicara dengan kedua orang tuaku. Astaganaga! Itu Pak Hajar, orang paling kaya sekaligus paling pelit di kampungku, atau mungkin di dunia!
“Maaf, Pak. Apa tidak bisa dikecilkan lagi bunganya.”suara ibu terdengar lirih.
“Iya, Pak. Kami mohon. Kalau kami harus menggadaikan kebon singkong kami, mau makan apa kami, Pak.” timbal ayahku.
“Tidak bisa! Pokoknya itu sudah kesepakatan atau barang itu saya cabut kembali dan kalian harus membayar ganti rugi dua ratus ribu karena sudah melanggar perjanjian.”
“Jangan diambil barang itu, Pak. Anak saja sangat membutuhkannya.” Ibu kembali memelas.
Barang? Barang untuk anak? Jangan-jangan..
Aku terduduk lesuh. Sementara, kedua orang tuaku memelas pada manusia pelit itu. Mana mungkin aku bahagia, sementara kedua orang tuaku tersiksa? Mana nuranimu Siti!
Kubereskan laptop baru dan mengemasnya rapi di dalam kotak seperti sedia kala. Suara ayah dan ibu tak terdengar lagi, begitu pun suara rentenir itu. Besok pagi, aku berjanji, dunia akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja tanpa laptop atau tanpa fasilitas apa pun.
***
Esok paginya, ibu membuat sarapan seperti biasa. Ayah juga mengemasi perkakas bertani seperti biasa pula. Seolah, tadi malam tidak ada acara mohon-memohon yang dilakukan kedua orang tuaku pada rentenir macam Pak Hajar.
“Ibu...sepertinya laptop itu tidak begitu dibutuhkan sekarang.”
Ibu yang sedang meniup api menoleh ke arahku. “Kenapa memangnya, Sit.”
“ Siti akan baik-baik saja tanpa laptop atau tanpa fasilitas apa pun”
“Tugas-tugas kuliahmu bagaimana?”, timbal ayah.
“Ayah..Ibu, Siti minta maaf. Mana mungkin Siti sarjana namun membuat ayah dan ibu sengsara. Itu tidak membuat Siti bangga sedikit pun.”
Aku lekas sarapan dan membawa laptop itu ke rumah Pak Hajar. Uang dua ratus ribu yang tadinya ingin kujadikan setoran pertama kredit laptop, kuikhlaskan untuk Pak Hajar. Suatu hari nanti, Pak Hajar yang pelit nauzubillah itu, akan ‘dihajar’ Tuhan.
Aku kuliah seperti biasa. Tugas-tugas kekerjakan tepat waktu. Dengan atau tanpa laptop, toh aku masih bisa kuliah seperti biasa.
“Sit...Siti selama ya” ujar Kirana tergesa-gesa.
“Selama apa?”
“Selamat, risetmu tentang singkong disetujui Pak Dekan.”
“Serius?”
“Iya. Ini surat keputusannya.” Kirana menyodorkan selembar surat padaku.
Yes!! Akhirnya, proyek isengku disetujui pak dekan. Aku akan memberi tahu ibu.
Ibu tersenyum penuh arti. Entah itu senyum bangga atau senyum yang mengatakan aku aneh. Entahlah, tapi aku suka dengan ideku, selei singkong. Hehe.
Ide selei singkong terus aku kembangkan dan aku menjadi mahasiswa pertama di Fakultas Pertanian yang mendapat proyek kerja sama dengan perusahaan Jepang. Mereka mengapresiasi selei buatanku dan akan memproduksi dalam jumlah besar. Aku pun mendapatkan laptop gratis untuk menulis resetku. Aku juga membuat hak paten dan mendapatkan nama untuk seleiku, tentunya bukan Nasi Uduk Bu Siti atau Siti Book Center karena itu jelas tidak nyambung. Aku membuat lebel SSS yang merupakan singkatan dari Selei Singkong Siti. Sederhana tapi what ever!
Dan beginilah hidup. Mungkin benar apa yang diucapkan Andrea Hirata, Tuhan tahu tapi menunggu. Ya, kemarin, belum waktunya aku memiliki apa yang aku suka. Mungkin Tuhan memberikan waktu yang tepat, kapan aku bisa mewujudkan cita-citaku, memiliki laptop. Kalimat manjadda wajaddah yang ditulis A. Fuadi juga terbukti. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mendapatkan. Mungkin Tuhan bosan dengan doaku yang itu-itu saja. Jujur, aku selalu berdoa agar aku bisa memiliki laptop. Tapi, kalau aku saja tidak begitu terobsesi dengan laptop, jalan ceritanya tidak akan seperti ini. Salam SSS (Selei Singkong Siti).
Bukit Besar, Minggu,19 Juni 2011
Kamis, 07 Juli 2011
Oh..mimpiku.
Oh...senangnya melihat orang yang bisa menjalani hidupnya yang biasa. Tanpa target, tanpa pencapaian-pencapaian, dan mungkin kerjanya hanya mengikuti waktu. Ah...aku benci diriku yang sekarang. Aku kehabisan semangat. Ide-ideku malas untuk keluar. Aku juga menjalani hidup dengan kata biasa!!! Ah...mengapa aku ditakdirkan menjadi orang yang punya banyak cita-cita? Ya..mungkin cita-citaku terlalu banyak dan semangatku terlalu menggebu!! Saudara perempuanku selalu mengatakan, jangan terlalu bersemangat!! jangat terlalu menggebu=gebu!! oh...mengapa tak ada bisa mengerti aku. mengapa orang-orang tidak bisa menerima cita-citaku. Aku selalu dianggap seseorang yang terlalu berlebihan. Mereka tak mengerti aku. Mau dibawa kemana impian-impianku??
Rabu, 06 Juli 2011
Lelah juga
Senin, 06 Juni 2011
What's up!!
Jumat, 20 Mei 2011
Reza Rahardian

Satu hal yang membuat saya kagum dengan aktor yang satu ini, ucapan persembahan Reza kepada orang-orang yang telah membantunya dalam karir. Em, saya berharap, suatu hari nanti bisa bertemu dengannya dan menjadi bagian dari film yang dibintanginya. Semoga film itu berjudul "Tulpen" Amiiiiiiiiiiiiiiiiiin. Ini dia berita tentang Reza Rahardian yang saya kutip dari http://www.21cineplex.com/slowmotion/raih-penghargaan-lagi-reza-rahadian-bilang-ini-bukan-puncak-karir,2238.htm pada hari Jumat, 20 Mei 2011. Met membaca!
Raih Penghargaan (lagi) Reza Rahadian Bilang ini Bukan Puncak Karir
4Share
“Terima kasih buat teman-teman wartawan yang telah mendukung karir saya sampai sekarang, kalau bukan karena kalian, saya tidak akan berada disini untuk memegang piala ini,” itulah kata-kata Reza Rahadian di hadapan para wartawan ketika dirinya dinobatkan sebagai pemenang Aktor Terbaik Indonesian Movie Awards 2011 (IMA 2011) lewat film 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta.
Ya, ini adalah kali kedua Reza mendapatkan penghargaan sebagai Aktor Terbaik untuk film yang sama setelah penghargaan yang diraihnya lewat ajang penghargaan Festival Film Indonesia 2010 lalu. Padahal diakui Reza semua nominator yang dihadapinya dibilang cukup berat. Sebut saja seperti Vino G. Bastian dengan perannya di Satu Jam Saja, dan Lukman Sardi lewat film Sang Pencerah dan Darah Garuda.
“Saingan semuanya berat, mas Lukman Sardi salah satu aktor terbaik Indonesia menurut saya. Mas Lukman sempat bilang selamat, ya saya juga awalnya menjagokan mas Lukman. Tapi kita berdua sama-sama ingin terus berkarir dan berharap suatu saat saya bisa main bareng dengannya,” kata Reza dalam acara yang digelar di Tennis Indoor Senayan, Jakarta (10/5) itu.
Dua kali mendapatkan penghargaan untuk film yang sama adalah suatu yang menakjubkan, Reza pun bersyukur dengan apa yang telah didapatkannya sekarang, namun ia enggan jika kesuksesannya merupakan puncak karirnya dalam dunia perfilman Indonesia.
“Belum, karena memang untuk menuju puncak itu nggak ada habisnya, menurut saya penghargaan ini sebagai titik balik saya untuk berusaha lebih baik lagi. Harapannya mudah-mudahan bisa terus berkarir di dunia perfilman Indonesia dan bermain dalam film-film berkualitas,” jelas aktor yang baru saja merilis film terbarunya The Mirror Never Lies.
Lalu jika di FFI 2010 piala dipersembahkannya untuk sang ibu, untuk siapakah piala IMA 2011 dipersembahkannya? “Untuk adik saya, David!!.” (eM_Yu)
Cinta=takdir

Dear my lovely blog..
gimana kalau hari ini kita bahasa tentang cinta? (Setujuuuuuuuuuuuu!!!) kebetulan, sekarang aq pake baju pink, jadi rada nyambung gitu (loh!!!) Oya,Teman, kalian pernah jatuh cinta kan? Kalau pernah, trus apa yang kalian rasakan? jangan bilang kalau kalian akan menghindar dari perasaan yang satu ini! Karena sebenernya cinta itu anugerah..
Tapi, jauh sebelum kita menerawang tentang cinta, kita kudu sadar dulu kalau cinta itu adalah takdir Allah. Ya, karena kita tidak akan pernah tahu siapa cinta kita di dunia ini, begitu pun di akhirat, So, itu bukti kalau cinta itu takdir.
memang, di zaman sekarang, manusia seolah serba bisa. anaehnya, masalah cinta pun manusia seolah sudah tahu dan paham. Tidak jarang, muda mudi jaman sekarang telah menjudge kalau 'pacarnya' sekarang adalah suaminya kelak. weleh-weleh..hebet bener tuh muda mudi! Em...sejauh ini, kita emang tidak tahun jalan cinta kita ke mana, dengan siapa kita menjadi makmum, dan siapa yang akan menjadi ayah/ibu dari anak-anak kita. namun, ada satu pesan bijak yang kudu kita denger n aplikasikan baik-baik "Jadilah yang terbaik agar kita mendapatkan jodoh yang baik pula". Cinta memang takdir ilahi, cinta memang misteri, namun kita juga harus mempuerjuangkan cinta seperti kita memperjuangkan cita-cita kita. bukankan barang siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan "Man jadda wa jaddah". So, mari kita perbaiki akhlak kita demi cahaya cinta yang lebih terang, seterang cita-cita kita. amin. note: cinta itu suci, cinta itu menjaga, bukan memiliki. alangkah beruntungnya orang yang saling jatuh cinta karena Allah. Orang-orang yang jatuh cinta demi kebaikan salah satu dari mereka atau keduanya.
Dan Beginilah Saya

Dear my lovely blog...Hai..hai hai...em, sueneng buanget!!! Alhamdulilah, rasanya, hari ini adalah hari yang menyenangkan! tau kenapa? karena hari ini Ayuk Ujik minjemin aku netbooknya! Horeeee! semoga targetku minggu ini tercapai. Aku ingin menyelesaikan novelku dengan segera! aku ingin menyelesaikan hutangku"mewujudkan satu impian yang aku ikrarkan di depan teman-temanku". Terima kasih Ya Allah, engkau masih memberi Hamba semangat untuk hidup, untuk berkarya, dan untuk menjadi sesuatu!
Kamis, 19 Mei 2011
Sabarlah wahai mimpi-mimpiku

Dear My lovely blog..
Ini adalah secuil kisah tentang mimpi-mimpiku, bukan bualan atau omong kosong semata. Aku baru menyadari, kalau dalam setiap kubik di hidupku, ada mimpi yang bernapas dan mengalir di nadi yang terdalam. Sebagai manusia, aku memeliharanya, hingga aku tumbuh menjadi aku yang sekarang, yang berusaha membaca duni, berusaha memperjuangkan mimpi-mimpiku di kesempitan gerak. Aku sempat tak percaya, wacana-wacana yang sering kubaca dari buku-buku motivasi, cerita-cerita orang dulu, terjadi juga padaku. Aku mengalami krisis dukungan. Ya, aku merasakan itu akhir-akhir ini. Dunia seolah tak mendengar jeritanku. Bahkan orang-orang terdekatku. Ah..kenapa aku harus sensitif dengan ini ? kenapa aku justru menggarisbawahi kesedihan. Bukankah itu tidak perlu? Bukankah masih banyak hal-hal yang lebih penting..Oh, bukan begitu kawan! ini masalah hati yang kian hari kian diterpa nasib. Nasib, takdir, dan mimpi. ketiganya selalu dan akan selalu memberikan tanda tanya besar bagiku. Dan mungkin sekarang aku sedanga menjalani takdirku, tingal di Palembang, menjadi bagian dari Keluarga Izzah dan Suhardi, lalu bermimpi dan berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpiku!
aku juga tak mengerti, kenapa di saat aku baru meneriakkan dan mengikat cita-citaku di dalam hati, orang-orang di luar aku mencoba mempertanyakan kelanjutan mimpiku? ini itu perihal mimpiku. Aku belum bisa menjawab, tapi suatu hari nanti, waktu yang akan berbicara pada orang yang tak pernah mau percaya.
Aku menanti kesuksesan itu tiba. Hari-hariku sisipi doa dan zikir kesuksesan. Aku hanya punya itu, dua senjata yang tak membutuhkan uang atau materi. Kusirami mimpiku dengan dzikir yang tak putus -putus. Kuberikan napas bagi mimpiku dengan atmosfir berisi doa-doa. tapi mengapa, orang-orang seolah tak percaya dan menganggapku PEMBUAL! aku sudah bosan digunjingkan! aku sudah bosan menjadi bahan tertawaan. aku sudah bosan melihat muka-muka yang memandangku sebagai anak perempuan yang hanya mampu bicara! aku sudah bosan dipandang bukan siapa-siapa!aku ingin keluar dari lingkaran yang memandangku seperti semut hitam, kecil pula. ah...mengapa aku malah menularkan keluh kesah??
Baiklah, untuk mimpi-mimpiku, bersabarlah. bersabarlah karena aku pasti akan mewujudkanmu. Aku tak peduli duani akan tertawa, orang-orang akan menghina, aku tak peduli. Yang aku pedulikan adalah kalian, mimpi=mimpiku yang kupelihara sejak kecil. aku yakin, kalian sudah tidak sabar, tapi sabarlah mimpi-mimpiku yang agung, kalian pasti akan keluar dari derita omong kosong orang-orang, karena kita sudah punya senjata lengkap, doa, usaha, dan dzikir, meski tanpa fasilitas dan waktu yang lapang. Sabarlah mimpi-mimpiku, aku akan matang, aku akan terbang, meski matahari belum terbit! salam, Dwi P.
Rabu, 11 Mei 2011
Kesempatan.oh..kesempatan
Bulan Mei! aku ingin meneriakkan kata bulan Mei! Betapa tidak, di bulan mei ini, aku merasa menjadi orang yang merugi. Why? because aku berada dalam lingkaran kesempatan namun aku tidak bisa masuk dalam lingkaran itu sendiri. Well, sebelumnya kita ta'aruf dulu.(Lohh?) hehe, jangan bingung. maksudku, kita kenalan dulu kalo aku termasuk orang yang semangat dengan kata-kata lomba. Ya, menang kalah itu urusan belakangan, yang jelas, PARTISIPASI. itu kuncinya. memang, dari kecil aku terbiasa dengan lomba-lomba. sampai seragam putih abu-abu pun aku kenyang dengan istilah lomba. Tapi, entah mengapa, di kuliah ini aku menjadi ' tak berdaya'..stok semangatku untuk ikut lomba seolah dibatasi oleh pikiranku sendiri. banyak tugas lah, inilah..itulah..n bla..bla..bla..alhasil, aku tak begitu akrab dengan istilah yang satu ini. oya, kembali pada pembicaraan sebelumnya yang membahas tentang bulan Mei dan kesempatan! ah, apa ini belum waktunya saja. aku merasa masih kepikiran. bagaimana tidak, Eagle Award 2011 sudah didepan mata, konsep sudah kubuat matang, tapi...jatah waktu 4 bulan untuk pitching yang memberatkanku. padahal, 4 bulan ke depan aku harus PPL. uh..terpaksa aku memilih kuliah, dari pada itu. selanjutnya adalah lomba duta baca! pokoknya aku harus nekat! pokonya aku harus ikut. ada alasan yang membuatku ikut lomba itu: apalagi kalau bukan hadiahnya. jujur, mengharapkan hadiah itu adalah penyemangatku ikut lomba. dengan uang lomba ini, aku berharap bisa kusimpan untuk biaya wisudaku nanti. ya, pasti bermanfaat. sekarang, aku harus bergerak. bukan berlama-lama di depan komputer seperti apa yang akan kulakukan sekarang. Ya, aku harus bergerak. aku tidak ingin kegagalanku di Duta Bahasa 2010 dan ketidakikutsertaanku di Eagle Award terulang lagi. semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan, sesenang perasaanku saat melihat senyum anak-anak jalanan di perempatan lampu mereha. Salam. Dwi Permatasari
Minggu, 24 April 2011
Like This
Assalamualaikum wr.wb.
Hai..hai..hai...seneng deh rasanya bisa ngutak atik blog lagi..kuangeeeee! kadang aku pikir, enak banget yang punya laptop, bisa petantang-petenteng bw laptop ke mana aja buat fb-an, blogger, dll. Hem...tapi, no excuse! nggak ada alasan cuy! yang namanya kreativitas itu nggak boleh mati! Allah SWT sudah ngasih kita otak plus syaraf-syaratnya yang luaaarr biasa! so, kenapa harus bersedih Dwi. Oya, sekanga aku lagi ada di gedung dekanat lantai satu. Di sini ada beberapa komputer 'berdiri' buat mahasiswa yang mau akses internet. salah satu mahasiswa itu adalah aku. seorang Dwi Permatasari. oya, buat kesempatan kali ini, aku pengen dokumentasiis status di facebook yang menurut orang-orang difacebook:like this!! Duh...senengnya! But, intinya, ada harapan kecil dari sekedar 'curhat' di blog hari ini. Harapan kecil agar kelas status di facebook ini bisa dibuat buku. minimal buku sakulah biar ada kenang-kenangannya gitu...hehe, mumpung facebook lagi naik dauh euiii...
Well, nggak usah bertele-tele deh...sok atuh kita simak apa aja untaian-untaian kalimat(ceile) yang udah aku buat lewat satus fabebook, kalu sempet ntar aku tambahin history-nya, kenapa aku bisa buat facebook kayak gitu, suasana hatikah, kutipankah, atau apa? penasaran khaaannn...here they are!!!
Mungkin sekarang kita memburu waktu, mengejarnya, berusaha untuk mengimbanginya. tapi tenanglah, kawan. Percayalah, waktu tidak akan menzholimi apa yang telah kita usahakan, Tuhan akan menolong, dan orang-orang di sekitar kita akan tersenyum. Bukan karena kita menang atas waktu, tapi kita telah bersabar dengan waktu itu sendiri. -Dwi P-
Dwi Permatasari
Dwi: "Mengapa kita harus punya semangat? " Permatasari: "karena kita hidup!"
20 menit yang lalu · SukaTidak Suka ·
Rezza Abdoel Hoesein menyukai ini.
Dwi Permatasari
kata-kata indah akan mendatangkan rejeki
Sabtu pukul 8:42 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi dan Ando Andos menyukai ini.
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Allah...Allah....Allah
Jumat pukul 19:07 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Ayu Octarina, Akhi Loversmyfriends, Viyan G Bastian dan 4 lainnya menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
Dalam cinta, ada kasih sayang; dalam kasih sayang, ada ketulusan; dalam ketulusan, ada keikhlasan; untuk menggapai keikhlasan, ada pengorbanan; untuk berkorban, kita butuh semangat; untuk punya semangati, kita butuh yang namanya cita-cita; untuk sepotong cita-cita, kita butuh setangkup doa. -Dwi P-
20 April jam 20:20 · SukaTidak Suka ·
*
*
Muhammad Zuhaidi, Viyan G Bastian dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
Saran dari setetes air zam-zam" gunakan hati, logika, n keyakinan kepada Allah azza wajallah untuk menentukan suatu keputusan dan menjadikan keputusan itu kerangka baja dalam memantabkan mimpi-mimpi"
19 April jam 15:28 · SukaTidak Suka ·
*
*
Inal Art, FiiAna G Bastian, dan Defrii Adriian menyukai ini.
Dwi Permatasari
jangan habiskan waktu dengan pertanyaan: Apa yang saya punya? tapi kejarlah waktu dan tanyakanlah: apa yang bisa saya perbuat? -Dwi P-
17 April jam 14:50 · SukaTidak Suka ·
*
*
Elmayana Elma, Roy Aico, Agus Wibawa dan 2 lainnya menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
ketika cinta berbuah surga
17 April jam 8:44 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Ellya'na Popo, Dawila Wati, dan Herdani Jilid II menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
Aku ingin menjadi pahlawan bagi mimpiku! sebelum mimpi itu pupus, sebelum mimpi-mimpi itu berserakan, sebelum mimpi-mimpi itu kehilangan arah, sebelum napas berhenti, sebelum ada duka yang menyelinap.
13 April jam 17:06 · SukaTidak Suka ·
*
*
Rini Fauziah dan Puji Agustina menyukai ini.
Dwi Permatasari
sungguh...Engkau yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Mu..
09 April jam 20:23 · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda dan Luthfiyah Wardah menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
di dunia ini berjuta-juta orang hidup dan menarik napas.mereka berdiri ,mereka tegak dan ada yang duduk sendiri
06 April jam 11:25 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda menyukai ini.
Dwi Permatasari
ada asa yang tak akan habis dimakan waktu.
05 April jam 20:33 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
A'kang Imam Gustian dan Viyan G Bastian menyukai ini.
Dwi Permatasari
dan Allah bersama orang-orang yang sabar...
04 April jam 7:37 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda, Renie Moo dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
untuk iman yang menenangkan jiwa; jangan pernah pergi dari kalbu ini, denganmu, aku mampu berdiri tanpa harus menopang dagu dan kebingungan. Untuk iman yang menjernihkan pikiran, tinggalkanlah jejak di akal ini agar lurus antara logika dan nurani, untuk iman yang kadang pasang surut...tetaplah bersamaku, tetaplah di hatiku, tetaplah menjadi pelitah menuju Rabb-ku. Amin.
30 Maret jam 23:37 · Tidak SukaSuka ·
*
*
Anda, Bella Silvia Yolanda, ChieRaa DyonZieuz MuChacha, dan 2 orang lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Semangat adalah harta karun para penuntut ilmu, para pesakit yang terbaring, para musafir yang kebingungan, para penulis yang kehabisan kata-kata. Kesabaran adalah tambang emas bagi mereka yang menanti sebuah kepastian Tuhan. Karena Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
29 Maret jam 19:36 · SukaTidak Suka ·
*
*
Ellya'na Popo, Hendri Oku, Gerry Gondrong Bersahabat dan 2 lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Tak kan berpaling dari-Mu..
29 Maret jam 19:19 · SukaTidak Suka ·
*
*
Rhyans Whynarnoe ELbarca menyukai ini.
Dwi Permatasari
Siap pada suka duka dunia menjadikan kita jagoan di akhirat kelak..amiin.
26 Maret jam 21:04 · SukaTidak Suka ·
*
*
Elmayana Elma, Viyan G Bastian, dan Ahmad Didi menyukai ini.
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
Dwi Permatasari
Tuhan tolong aku...
23 Maret jam 9:28 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Muhammad Ikhsan menyukai ini.
Dwi Permatasari
Cinta itu bukan memiliki tapi menjaga.
19 Maret jam 16:53 · SukaTidak Suka ·
*
*
Fakeh Aliansyah menyukai ini.
#
*
*
*
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Jatuhkan pilihan atau pilihan yang akan menjatuhkanmu.
17 Maret jam 22:26 · Tidak SukaSuka ·
*
*
Anda, Ferdy Oktaviyan, Intan Pearl, dan 2 orang lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Dear Dunia,
Tahukah engkau, Dunia? Bahwa hari ini kami sudah terikat mati oleh hati. kami sekongkol untuk mendunia bersama angan dan cita-cita kami. bersama cerita cinta kami yang kami bawa untuk dunia dan akhirat. tahukah kau dunia, jika dalam setiap darah yang mengalir di raga kami, adalah bukti cinta orang tua kami yang dalam. maka, izinkan kami untuk menjadi sahabatmu dunia. sahabat suka dan duka
13 Maret jam 4:00 · SukaTidak Suka ·
*
*
Intan Pearl, Muhammad B Winata dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
manusia berencana,Tuhan yang menentukan.tapi tetap,jangan pernah miskin semangat!
08 Maret jam 6:53 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Rhyans Whynarnoe ELbarca dan FiiAna G Bastian menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Sehelai harga diri setangkup kesabaran
04 Maret jam 10:04 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Bahagialah bila..kau masih punya mimpi...hidup hanya sekali...berikanlah yang terbaik..merindukan purnama. (a song by Judika)
03 Maret jam 8:55 · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi, Feri Mardiansyah, dan Willyand Armando menyukai ini.
Dwi Permatasari
suatu hari nanti, berdoalah pada relung hatimu yang paling dalam..tentang hitam..tentang putih tentang janji Allah pada semua yang ada dalam lingkaran rahasiaNya.
02 Maret jam 22:03 · SukaTidak Suka ·
*
*
Herlina Bastari, Viyan G Bastian dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
suatu hari nanti...
02 Maret jam 22:01 · SukaTidak Suka ·
*
*
Viyan G Bastian menyukai ini.
Dwi Permatasari
purnama dalam hati seorang hamba.benderang layaknya doa yang ia panjatkan pada pemilik langit di sepinya malam.
01 Maret jam 17:21 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Intan Pearl, Herlina Bastari, dan Ferdy Oktaviyan menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Maha suci Allah..
27 Februari jam 22:19 · SukaTidak Suka ·
*
*
Viyan G Bastian, Hendri Oku, Griiv 'ndra Prince Mengkatak dan 2 lainnya menyukai ini.
eh, udah datang waktu sholat cuy....aku sholat dulu yah...gimana? lumayan kan statusnya, walau nggak bijak-bijak amat, seenggaknya status di facebook udah bikin plog hati, udah ngebantu orang saling memotivasi! setuju? hehe...
Wassalam.
Yang bermunajad padaNya
Dwi Permatasari
Hai..hai..hai...seneng deh rasanya bisa ngutak atik blog lagi..kuangeeeee! kadang aku pikir, enak banget yang punya laptop, bisa petantang-petenteng bw laptop ke mana aja buat fb-an, blogger, dll. Hem...tapi, no excuse! nggak ada alasan cuy! yang namanya kreativitas itu nggak boleh mati! Allah SWT sudah ngasih kita otak plus syaraf-syaratnya yang luaaarr biasa! so, kenapa harus bersedih Dwi. Oya, sekanga aku lagi ada di gedung dekanat lantai satu. Di sini ada beberapa komputer 'berdiri' buat mahasiswa yang mau akses internet. salah satu mahasiswa itu adalah aku. seorang Dwi Permatasari. oya, buat kesempatan kali ini, aku pengen dokumentasiis status di facebook yang menurut orang-orang difacebook:like this!! Duh...senengnya! But, intinya, ada harapan kecil dari sekedar 'curhat' di blog hari ini. Harapan kecil agar kelas status di facebook ini bisa dibuat buku. minimal buku sakulah biar ada kenang-kenangannya gitu...hehe, mumpung facebook lagi naik dauh euiii...
Well, nggak usah bertele-tele deh...sok atuh kita simak apa aja untaian-untaian kalimat(ceile) yang udah aku buat lewat satus fabebook, kalu sempet ntar aku tambahin history-nya, kenapa aku bisa buat facebook kayak gitu, suasana hatikah, kutipankah, atau apa? penasaran khaaannn...here they are!!!
Mungkin sekarang kita memburu waktu, mengejarnya, berusaha untuk mengimbanginya. tapi tenanglah, kawan. Percayalah, waktu tidak akan menzholimi apa yang telah kita usahakan, Tuhan akan menolong, dan orang-orang di sekitar kita akan tersenyum. Bukan karena kita menang atas waktu, tapi kita telah bersabar dengan waktu itu sendiri. -Dwi P-
Dwi Permatasari
Dwi: "Mengapa kita harus punya semangat? " Permatasari: "karena kita hidup!"
20 menit yang lalu · SukaTidak Suka ·
Rezza Abdoel Hoesein menyukai ini.
Dwi Permatasari
kata-kata indah akan mendatangkan rejeki
Sabtu pukul 8:42 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi dan Ando Andos menyukai ini.
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Allah...Allah....Allah
Jumat pukul 19:07 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Ayu Octarina, Akhi Loversmyfriends, Viyan G Bastian dan 4 lainnya menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
Dalam cinta, ada kasih sayang; dalam kasih sayang, ada ketulusan; dalam ketulusan, ada keikhlasan; untuk menggapai keikhlasan, ada pengorbanan; untuk berkorban, kita butuh semangat; untuk punya semangati, kita butuh yang namanya cita-cita; untuk sepotong cita-cita, kita butuh setangkup doa. -Dwi P-
20 April jam 20:20 · SukaTidak Suka ·
*
*
Muhammad Zuhaidi, Viyan G Bastian dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
Saran dari setetes air zam-zam" gunakan hati, logika, n keyakinan kepada Allah azza wajallah untuk menentukan suatu keputusan dan menjadikan keputusan itu kerangka baja dalam memantabkan mimpi-mimpi"
19 April jam 15:28 · SukaTidak Suka ·
*
*
Inal Art, FiiAna G Bastian, dan Defrii Adriian menyukai ini.
Dwi Permatasari
jangan habiskan waktu dengan pertanyaan: Apa yang saya punya? tapi kejarlah waktu dan tanyakanlah: apa yang bisa saya perbuat? -Dwi P-
17 April jam 14:50 · SukaTidak Suka ·
*
*
Elmayana Elma, Roy Aico, Agus Wibawa dan 2 lainnya menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
ketika cinta berbuah surga
17 April jam 8:44 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Ellya'na Popo, Dawila Wati, dan Herdani Jilid II menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
Aku ingin menjadi pahlawan bagi mimpiku! sebelum mimpi itu pupus, sebelum mimpi-mimpi itu berserakan, sebelum mimpi-mimpi itu kehilangan arah, sebelum napas berhenti, sebelum ada duka yang menyelinap.
13 April jam 17:06 · SukaTidak Suka ·
*
*
Rini Fauziah dan Puji Agustina menyukai ini.
Dwi Permatasari
sungguh...Engkau yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Mu..
09 April jam 20:23 · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda dan Luthfiyah Wardah menyukai ini.
*
Dwi Permatasari
di dunia ini berjuta-juta orang hidup dan menarik napas.mereka berdiri ,mereka tegak dan ada yang duduk sendiri
06 April jam 11:25 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda menyukai ini.
Dwi Permatasari
ada asa yang tak akan habis dimakan waktu.
05 April jam 20:33 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
A'kang Imam Gustian dan Viyan G Bastian menyukai ini.
Dwi Permatasari
dan Allah bersama orang-orang yang sabar...
04 April jam 7:37 melalui 0.facebook.com · SukaTidak Suka ·
*
*
Bella Silvia Yolanda, Renie Moo dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
untuk iman yang menenangkan jiwa; jangan pernah pergi dari kalbu ini, denganmu, aku mampu berdiri tanpa harus menopang dagu dan kebingungan. Untuk iman yang menjernihkan pikiran, tinggalkanlah jejak di akal ini agar lurus antara logika dan nurani, untuk iman yang kadang pasang surut...tetaplah bersamaku, tetaplah di hatiku, tetaplah menjadi pelitah menuju Rabb-ku. Amin.
30 Maret jam 23:37 · Tidak SukaSuka ·
*
*
Anda, Bella Silvia Yolanda, ChieRaa DyonZieuz MuChacha, dan 2 orang lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Semangat adalah harta karun para penuntut ilmu, para pesakit yang terbaring, para musafir yang kebingungan, para penulis yang kehabisan kata-kata. Kesabaran adalah tambang emas bagi mereka yang menanti sebuah kepastian Tuhan. Karena Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
29 Maret jam 19:36 · SukaTidak Suka ·
*
*
Ellya'na Popo, Hendri Oku, Gerry Gondrong Bersahabat dan 2 lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Tak kan berpaling dari-Mu..
29 Maret jam 19:19 · SukaTidak Suka ·
*
*
Rhyans Whynarnoe ELbarca menyukai ini.
Dwi Permatasari
Siap pada suka duka dunia menjadikan kita jagoan di akhirat kelak..amiin.
26 Maret jam 21:04 · SukaTidak Suka ·
*
*
Elmayana Elma, Viyan G Bastian, dan Ahmad Didi menyukai ini.
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
Dwi Permatasari
Tuhan tolong aku...
23 Maret jam 9:28 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Muhammad Ikhsan menyukai ini.
Dwi Permatasari
Cinta itu bukan memiliki tapi menjaga.
19 Maret jam 16:53 · SukaTidak Suka ·
*
*
Fakeh Aliansyah menyukai ini.
#
*
*
*
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Jatuhkan pilihan atau pilihan yang akan menjatuhkanmu.
17 Maret jam 22:26 · Tidak SukaSuka ·
*
*
Anda, Ferdy Oktaviyan, Intan Pearl, dan 2 orang lainnya menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Dear Dunia,
Tahukah engkau, Dunia? Bahwa hari ini kami sudah terikat mati oleh hati. kami sekongkol untuk mendunia bersama angan dan cita-cita kami. bersama cerita cinta kami yang kami bawa untuk dunia dan akhirat. tahukah kau dunia, jika dalam setiap darah yang mengalir di raga kami, adalah bukti cinta orang tua kami yang dalam. maka, izinkan kami untuk menjadi sahabatmu dunia. sahabat suka dan duka
13 Maret jam 4:00 · SukaTidak Suka ·
*
*
Intan Pearl, Muhammad B Winata dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
manusia berencana,Tuhan yang menentukan.tapi tetap,jangan pernah miskin semangat!
08 Maret jam 6:53 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Rhyans Whynarnoe ELbarca dan FiiAna G Bastian menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Sehelai harga diri setangkup kesabaran
04 Maret jam 10:04 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
#
*
Tulis komentar...
Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.
#
Hapus Kiriman
Dwi Permatasari
Bahagialah bila..kau masih punya mimpi...hidup hanya sekali...berikanlah yang terbaik..merindukan purnama. (a song by Judika)
03 Maret jam 8:55 · SukaTidak Suka ·
*
*
Dina Pratiwi, Feri Mardiansyah, dan Willyand Armando menyukai ini.
Dwi Permatasari
suatu hari nanti, berdoalah pada relung hatimu yang paling dalam..tentang hitam..tentang putih tentang janji Allah pada semua yang ada dalam lingkaran rahasiaNya.
02 Maret jam 22:03 · SukaTidak Suka ·
*
*
Herlina Bastari, Viyan G Bastian dan 2 orang lainnya menyukai ini.
Dwi Permatasari
suatu hari nanti...
02 Maret jam 22:01 · SukaTidak Suka ·
*
*
Viyan G Bastian menyukai ini.
Dwi Permatasari
purnama dalam hati seorang hamba.benderang layaknya doa yang ia panjatkan pada pemilik langit di sepinya malam.
01 Maret jam 17:21 melalui Web Seluler · SukaTidak Suka ·
*
*
Intan Pearl, Herlina Bastari, dan Ferdy Oktaviyan menyukai ini.
*
*
Tulis komentar...
Dwi Permatasari
Maha suci Allah..
27 Februari jam 22:19 · SukaTidak Suka ·
*
*
Viyan G Bastian, Hendri Oku, Griiv 'ndra Prince Mengkatak dan 2 lainnya menyukai ini.
eh, udah datang waktu sholat cuy....aku sholat dulu yah...gimana? lumayan kan statusnya, walau nggak bijak-bijak amat, seenggaknya status di facebook udah bikin plog hati, udah ngebantu orang saling memotivasi! setuju? hehe...
Wassalam.
Yang bermunajad padaNya
Dwi Permatasari
Kamis, 21 April 2011
Diary digital
Dunia semakin edan! teknologi pun semakin menggila! Tapi aku tetaplah aku. Seorang dwi Permatasari yang dianugerahi Allah kesempatan, kemauan, semangat, dan cita-cita. Umurku sekarang masih 19 tahun. Oktober nanti akan genap berusia 20 tahun! Ups...inikah rasanya berkepala dua? Sadar atau nggak, zaman sudah berubah. Dulu, waktu masih putih merah, aku rajin banget nulis diary, dari yang covernya warna vink, gambar kue tar, gambar doraemon, atau cuma buku tulis yang kubagi dua, satu buat catatan ngitung-ngitung angka, satu lagi buat diary!
Ya, aku akui, aku dan masa kecilku tidak lepas dari dua buku, iqra' dan buku diary. Entah kenapa, aku senang banget nuli. mulai dari nulis biodata, puisi, cerita, samopai kegundahanku saat ibuku tak pernah membelikan meja belajar baru untuk kami! Begitulah, aku mengenal diary, sebuah buku yang akan mengisi cerita-ceritaku.
Menginjak SMP, aku tambah giat nulis diary! Bagiku, SMP pasti akan seru! Makanya, aku sediakan buku diary yang gede biar muat semua cerita zaman SMA. Tentunya, di diaryku yang baru ini, akan sedikit cerita Gang Power Ranger yang anggotanya aku, ayuk ujik, Heryanto, Ari, Sepol. Aku mungkin tak akan menceritakan pengalaman jadi pesepak bola wanita pertama di SDku tercinta (SDN 3 maeranjat). Tidak ada lagi kenangan ngaji bareng Eceh, agus, Niovia, marry, Esi, Bodug. Itu semua karena kita nggak satu sekolah lagi,...Huhu
Next, SMP bener-bener gudangnya bakat. Aku mulai mencicipi banyak eskul dan bergonta-ganti kelas, dari predikat kelas buntut (VI) sampai ke kelas unggulan (I). Jujur, aku sangat menikmati prestasi SMP yang secara dahsyat memompa keyakinanku dengan kekuatan otakku yang tak kuduga ini. dan itu semua kuabadikan dalam sebuah diary yang lusuh. Di SMP juga, secara tak sengaja, aku menemukan diary Ibuku. Wooow...! Rupanya ibuku juga rajin nulis diary! dan ibu curang, cover diarynya lebih bagus dari diary punyaku. covernya gadis belanda yang anggun dengan pandangan yang pasti! seketika, aku ingin mengikuti selera ibuku! Aku ingin dianggap dewasa dengan sampul diary yang juga dewasa. tak dinanya, aku membeli diary yang menurutku tidak terkesan kanak-kanak.
SMA!!! Emang bener apa kata orang! masa0-masa SMA adalah masa-masa yang membahagiakan. Penuh sengat mendapatkan cita-cinta dan sedikit cerita cinta. Aku mengimbanginya dengan sebuah diary yang aku beli di Toko Buku Sumber Mas, sebuah buku diary yang menyejukkan siapa saja yang memandangnya, berwarna hijau muda dengan jumlah halaman 200! Terang saja, baru aku beli, tuh diary udah dicoret-coret oleh tanganku yang kagak nahan!
Karena rajin nulis diary, aku lebih milih curhat sama dia, sampaqi akhirnya aku sadar, diary bukanklah seseorang yang bisa tersenyum, memberi saran, atau marah jika tindakan kita salah. Diary hanyalah buku yang kita percaya akan menjaga rahasia. tapi, itu tidak berlaku untuk kehidupan sesungguhnya. satu sisi, kita legah telah menuangkan perasaan dengan menulis, tapi disisi lain, kita butuh seseorang untuk mendengar cerita, memberi feedback. Dan itu tidak bisa dilakukan oleh diary..
But, apapun pendapat yang ada, setidaknnya dengan diary, aku bisa membuka kenangan-kenangan yang mungkin bisa hilang. Kini, diary menjadi kata kunci suatu kejadian dalam hidupku. Aku ingin, jika aku telah tiada, ada orang yang tahu kisah hidupku, cita-citaku, orang yang aku kagumi, keinginanku, dan apa yang terpikir olehku. Mungkin, diary-diary itu jadi saksi hidup. meskipun ia tidak bisam bicara, toh semua orang bisa membaca.
Sekarang, di abad dua satu, kutinggalkan pena dan kertas dan melirik sebuah kotak dengan cahayanya yang menyilaukan mata. kotak itu berisikan kata-kata, gambar, tapi ajaibnya dia bisa membuat kita menuliskan apa yang sedang kita pikirkan. Dalam kotak itu, ada halaman yang bisa menuntun kita untuk berbagi. Dialah diary digital yang aku kenal bernama blog. Terima kasih! semoga kita menjadi penulis dengan memulai apa yang kita pikirkan, apa yang kita inginkan, seperti anak kecil yang sedang menulis diary sambil menguyah lolipop. -DwiP-
Ya, aku akui, aku dan masa kecilku tidak lepas dari dua buku, iqra' dan buku diary. Entah kenapa, aku senang banget nuli. mulai dari nulis biodata, puisi, cerita, samopai kegundahanku saat ibuku tak pernah membelikan meja belajar baru untuk kami! Begitulah, aku mengenal diary, sebuah buku yang akan mengisi cerita-ceritaku.
Menginjak SMP, aku tambah giat nulis diary! Bagiku, SMP pasti akan seru! Makanya, aku sediakan buku diary yang gede biar muat semua cerita zaman SMA. Tentunya, di diaryku yang baru ini, akan sedikit cerita Gang Power Ranger yang anggotanya aku, ayuk ujik, Heryanto, Ari, Sepol. Aku mungkin tak akan menceritakan pengalaman jadi pesepak bola wanita pertama di SDku tercinta (SDN 3 maeranjat). Tidak ada lagi kenangan ngaji bareng Eceh, agus, Niovia, marry, Esi, Bodug. Itu semua karena kita nggak satu sekolah lagi,...Huhu
Next, SMP bener-bener gudangnya bakat. Aku mulai mencicipi banyak eskul dan bergonta-ganti kelas, dari predikat kelas buntut (VI) sampai ke kelas unggulan (I). Jujur, aku sangat menikmati prestasi SMP yang secara dahsyat memompa keyakinanku dengan kekuatan otakku yang tak kuduga ini. dan itu semua kuabadikan dalam sebuah diary yang lusuh. Di SMP juga, secara tak sengaja, aku menemukan diary Ibuku. Wooow...! Rupanya ibuku juga rajin nulis diary! dan ibu curang, cover diarynya lebih bagus dari diary punyaku. covernya gadis belanda yang anggun dengan pandangan yang pasti! seketika, aku ingin mengikuti selera ibuku! Aku ingin dianggap dewasa dengan sampul diary yang juga dewasa. tak dinanya, aku membeli diary yang menurutku tidak terkesan kanak-kanak.
SMA!!! Emang bener apa kata orang! masa0-masa SMA adalah masa-masa yang membahagiakan. Penuh sengat mendapatkan cita-cinta dan sedikit cerita cinta. Aku mengimbanginya dengan sebuah diary yang aku beli di Toko Buku Sumber Mas, sebuah buku diary yang menyejukkan siapa saja yang memandangnya, berwarna hijau muda dengan jumlah halaman 200! Terang saja, baru aku beli, tuh diary udah dicoret-coret oleh tanganku yang kagak nahan!
Karena rajin nulis diary, aku lebih milih curhat sama dia, sampaqi akhirnya aku sadar, diary bukanklah seseorang yang bisa tersenyum, memberi saran, atau marah jika tindakan kita salah. Diary hanyalah buku yang kita percaya akan menjaga rahasia. tapi, itu tidak berlaku untuk kehidupan sesungguhnya. satu sisi, kita legah telah menuangkan perasaan dengan menulis, tapi disisi lain, kita butuh seseorang untuk mendengar cerita, memberi feedback. Dan itu tidak bisa dilakukan oleh diary..
But, apapun pendapat yang ada, setidaknnya dengan diary, aku bisa membuka kenangan-kenangan yang mungkin bisa hilang. Kini, diary menjadi kata kunci suatu kejadian dalam hidupku. Aku ingin, jika aku telah tiada, ada orang yang tahu kisah hidupku, cita-citaku, orang yang aku kagumi, keinginanku, dan apa yang terpikir olehku. Mungkin, diary-diary itu jadi saksi hidup. meskipun ia tidak bisam bicara, toh semua orang bisa membaca.
Sekarang, di abad dua satu, kutinggalkan pena dan kertas dan melirik sebuah kotak dengan cahayanya yang menyilaukan mata. kotak itu berisikan kata-kata, gambar, tapi ajaibnya dia bisa membuat kita menuliskan apa yang sedang kita pikirkan. Dalam kotak itu, ada halaman yang bisa menuntun kita untuk berbagi. Dialah diary digital yang aku kenal bernama blog. Terima kasih! semoga kita menjadi penulis dengan memulai apa yang kita pikirkan, apa yang kita inginkan, seperti anak kecil yang sedang menulis diary sambil menguyah lolipop. -DwiP-
Kamis, 13 Januari 2011
Mahasiswa Asing, Dimana Kalian?
Em...udah lewat satu semester, aku nggak ngeliat-liat yang namanya mahasiswa asing program beasiswa dharmasiswa. rasanya ada yang kurang! padahal,dari semester satu ampe semester empat, mereka ada dan jadi bagian dari pembelajaran di bangku kuliah. tapi, kok sekarang malah nggak kelihatan satu orang pun. Where are u, guys?
menuerutku, di Indonesia ini aneh. mungkin ada benarnya judul film Dedy Mizwar" Alangkah Lucunya Negeri Ini". Di saat generasi muda banyak meremehkan bahasa Indonesia dan menganggap enteng perihal bahasa Indonesia, justru di luar sana ada banyak mahasiswa dari berbagai negara berniat mengasah kemampuannya untuk kompeten berbahasa Indonesia. Minimal target mereka adalah bisa berbahasa Indonesia layaknya orang Indonesia.
Dan yang membuat aku bangga, mereka (mahasiswa asing) satu kelas denganku di program Studi Pendidikana Bahasa dan sastra Indonesia dan daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu pendidikan, Universitas Sriwijaya. Em..mungkin tak banyak yang tahu tentang keberadaan para mahasiswa ini. bahkan anak FKIP pun banyak yang nggak tahu. But, what ever? eksis atau nggak eksis, yang jelas, mereka benar-benar niat banget belajar bahasa Indonesia di negeri ini. Salut deh sama mereka. Padahal, di Indonesia sendiri, bahasa nasionalnya udah kalah populeh sama bahasa Inggris n bahasa gaul.
Keberadaaan mereka membawa 'angin segar' di kelas. rasanya aneh saja, saat begitu banyak generasi muda yang terobsesi belajar ke luar negeri, justru bule-bule itu yang melancong ke sini. Dan dari mereka, aku menemukan banyak filsafat-filsafat dan etos kerja mahasiswa asing. aku juga mengulik cerita bagaimana mereka bisa ke Indonesia, alasan mereka belajar bahasa Indonesia, dan bisakah jadi dosen bahasa Indonesia di luar negeri?
mahasiswa asing yang kukenal pertama kali adalah Gong Rhui Hua atau Leo. Mahasiswa dari negeri tirai bambu ini datang bersama temannya Reno (aku lupa apa nama cinanya). Ya, jelas, Leo memiliki aura positif yang bisa ia bagikan di lingkunganya. secara pakaian, Leo ntentrik abis. pakaiannya selalu jeans setengah tiang. dandanannya persis turis yang ingin melancong ke bali. Nyantai abis. tapi, kacamata yang nangkring di matanya membuat dia tampak intelek. Agamana Budha. Walau begitu, dia tergolong orang yang low profile dan memiliki toleransi beragama yang tinggi. Malah, dia sering bertanya tentang islam padaku. Lumayan kritis pertanyaan mahasiswa Chan Xien University itu. Em...aku dan teman-teman di kelas lumayan akrab dengan Leo. bahkan, waktu acara buka puasa bareng, dia dan empat mahasiswa lainnya ikut meramaikan. jadi, kami sekelas semakin kompak. dari leo, aku belajar banyak hal. tentu saja ia memberiku trik untuk menjadi wirausaha. maklum, orang Cina memang terkenal dengan kemahirannya berdagang. Tidak hanya itu, dia juga memberikan sepotong kata yang masih aku ingat hingga kini, " Rajinlah belajar, maka kau akan keliling dunia!". kalimat itu kuabadikan di buku diary dan akan kubaca jika mimpiku timbul tenggelam dan terkalahkan oleh pesimis. itu oleh-oleh yang berharga dari mahasiswa asing asal Cina.
Selain Leo, dari Cina ada satu mahasiswa lagi yang bernama Reno. pembawaannya kalam, cool, dan lucu. dia jarang bicara. Berbeda dengan leo yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Gaya bicaranya juga aneh. Tapi, teteup aja, dia jadi lirikan temen-temen di kelas. apalagi kalau bukan karena gayanya yang cool abis. hehe.
selanjutnya adalah dua wanita berkulit gelap dari Madagaskar. Mereka dalah Rina dan....duh siapa ya namanya, aku lupa. Ups...aku ingat, namanya NORU. hehe..rada aneh...jadi agak lupa. Maaf ya Noru..^_^. Em...jangan salah, mereka ini adalah wanita yang terpandang di negeranya. kayak si Noru. Dia adalah mahasiswa kedokteran di universitas negeri Madagaskar. Ayahnya adalah seorang elit politik negeri itu. kabarnya, kemana-mana, Noru di kawal oleh pasukan khusus. Tapi, saat dia di iIndonesia, tak satu pun yang menjaganya, malah kadang, dia sering menerima oejekan iseng dari mahasiswa di bis.Huh..menyebalkan, nanti laporin aja sama papa kamu ya, Noru. biar mereka kena jewer.hehhe. Noru adalah wanita yang pendiam. Sama halnya dengan Rina. mereka berdua adalah Duo Diam. hehe. Dari mereka berdua, aku belajar bahwa kemandirian itu perlu dimana pun kita berada. mandiri dan mudah beradaptasi.
Mereka berempat telah memberikan warna di kelas. Lewat mereka, aku mendongkrak kepercayaan dair sebagai mahasiswi FKIP Bahasa Indonesia. Aku juga memiliki cita-cita untuk mengajar bahasa Indonesia di luar negeri. tercapai atau tidak. Itu urusan belakangan.
sebelum Leo pergi, aku dan Armi Antasari memberikan cendramata, yaitu miniatu jembatan Ampera yang menjadi ikon kota Palembang. legah rasanya. Terima kasih teman-teman..semoga kami bisa berkunjung ke negara kalian.
patah hilang tumbuh berganti. Setelah Leo dkk kembali ke negera mereka masing-masing, di semester empat, mahasiswa asing datang lagi. (horeeeee!!!!) senangnya! Pelajaran apa lagi yang bisa kudapat! jadi penasaran. Singkat cerita, ternyata dua mahasiswa yang ikut program dharmasiswa kali ini adalah mahasiswa dari negeri gajah putih, Thailand. Mereka adalah Farida Bau dan Yu i. mereka kelihatan lebih fresh dan modis. Dan yang membuat aku berseri-seri, satu di antara mereka mengenakan jilbab. She is moslem! Mulanya, aku nggak terlalu dekat dengan mereka coz mereka belajar di kampus Unsri Bukit, sedangkan aku di Inderalaya. Nah..mungkin karena memang takdir Allah, aku dan farida bertemu di latihan teater. Kebetulan farida datang bersama anak Unsri Bukit, so kami kenalan.dari situ persahabatan singkat ini dimulai. farida sudah menjadi sahabatku sendiri. kami pergi bareng, kuliah bareng, belanja bareng. tentu saja kami berbagi cerita tentang impian kami masing-masing, tentang cita-cita juga tentang cinta. Di mataku, Farida adalah orang yang istiqomah. Ia tetap menjalankan sholat tepat waktu dan selalu mengenakan jilbab. Dia muslimah sejati. Aku sempat bertanya,apakah keluarganya Islam? dan benar, keluarganya Islam. Ayah Farida adalah orang Thailand sedangkan Ibunya adalah orang Arab. Keduanya beragama Islam. Ayah Farida berprofesi sebagai dokter gigi, sedangnya ibunya adalah pengusaha dengan membuka dua restoran thailan, di Thailand dan di Malaysia. hebat! Dia juga bercerita tentang rumahnya yang berada di bibir pantai. cerita Farida membuat aku berandai-andai berada di teras rumahnya sambil menghirup angin pantai yang segar, jilbab berkibar-kibar karena di terpa angin, dan memandang laut yang beradu dengan langit memadukan warna biru muda dan putih. pemandangan yang indah.
Cina, Madagaskar, bangladesh, dan thailand, terima kasih telah mengirimkan mereka untuk kami, untukku orang udik yang bermimpi menginjakkan kaki di di negara sahabat-sahabatku itu. terima kasih juga telah belajar bahasa Indonesia. that's unforgetable moment!
Jumat, 05 November 2010
cekil (cerita kilat); 'sabun mentega'
Seperti biasa, Sabtu-Minggu aku nggak ada kuliah. satu sisi aku seneng banget coz nggak perlu ke kampusku yang juaaaaauh banget (maklum, letak kampusku di kabupaten, jadi satu jam dari kota)! tapi, di sisi lain ini dua hari itu adalah hari kerja bakti di rumah. peraturannya; siap yang nggak pergi, ia harus bersih-bersih rumah! hua...alhasil, akulah yang rutin kerja bakti tiap sabtu minggu. maklum, berhubung dompet lagi kurus-kurusnya, terpaksa aku harus mingkem di rumah. padahal, jadwal film lagi bagus-bagusnya! nasib...nasib...
singkat cerita, selesai sarapan, aku berencana buat nguras bak mandi yang dasarnya udah pada item-item kena pasir warna item bekas air hujan. huh..kenapa dua hari ini mesti ujan mulu'? jadi harus rutin nguras kamar mandi deh...! dengan baju lusuh and muka lusuh karena belon mandi, aku langsung tancap gas ke TKP (tempat kejadian perkara). untung pas aku ngebut TKP nggak ada Om pPartoi, kalo ada, bisa-bisa aku diajak syuting OVY (Maauuuuuuuuuuuuu!. alat nguras bak mandi cukup sederhana pemirsa. sediakanlah sebuah selang yang bisa menhjangkau dasar bak. lalu, dua lubang selang itu kita masuki ke dalam air bak. singkat cerita, karena udah biasa nguras bak, jadi aku bisa dengan sigap, tajam, terpercaya (emang berita!!?), si air langsung keluar dari selang. dengan baju yang basah kuyup (udah biasa) akhirnya selang itu berhasil menyedot pasir-pasir item di dasar bak. tapi...pemirsa...pemirsa! tiba-tiba si selang nggak ngeluarin pasir item lagi. ada apa dengan selang?(AADS, ternyata eh ternyata, si selang keselek sabuh mandi yang ada di dasar bak. buset dah, mana muat tuh selang nyedot sabung segedek kepalan tangan. dengan rasa iba kepada selang, akhirnya aku melepaskan sabuh mandi dari mulut si selang. sementara selang melanjutkan aktivitasnya, akupun membersihkan sabun yang ternyata udah lembek banget kayak mentega!aduh..tega bener si adek yang nemplungin ni sabun ke bak. ini sabun udah selembut mentega. aku bener-bener nggak tega dengan sabun yang kaya mentega.uh..teganya..dena sabun mentega.(hitung berapa kaat 'tega'!). so, aku lumatkan aja tuh sabuh. pake sendok dan mangkon, sabun itu aku potong-potong and dilumatkan atau dipenyetkan. alhasil, jadilah sabun yang tadinya batang menjadi sabun colek..horeee!!!berhasil-berhasi, teriak dora dan wut!!!akhirnya, tuh sabun sekang nongkrong di kamar mandi. hari ini aku telah menyelamatkan sabun yang tidak berdosa. semoga tuh sabun bisa awet di dalam wadah bekas Chocokran punya adek Orie. jadi, tuh sabun maih dipakai walau statusnya udah berganti dari lajang ke menikah (lohh??) maksudnya dari sabun batang ke sabung celek. hahah .sabun said: makasih uwie..
singkat cerita, selesai sarapan, aku berencana buat nguras bak mandi yang dasarnya udah pada item-item kena pasir warna item bekas air hujan. huh..kenapa dua hari ini mesti ujan mulu'? jadi harus rutin nguras kamar mandi deh...! dengan baju lusuh and muka lusuh karena belon mandi, aku langsung tancap gas ke TKP (tempat kejadian perkara). untung pas aku ngebut TKP nggak ada Om pPartoi, kalo ada, bisa-bisa aku diajak syuting OVY (Maauuuuuuuuuuuuu!. alat nguras bak mandi cukup sederhana pemirsa. sediakanlah sebuah selang yang bisa menhjangkau dasar bak. lalu, dua lubang selang itu kita masuki ke dalam air bak. singkat cerita, karena udah biasa nguras bak, jadi aku bisa dengan sigap, tajam, terpercaya (emang berita!!?), si air langsung keluar dari selang. dengan baju yang basah kuyup (udah biasa) akhirnya selang itu berhasil menyedot pasir-pasir item di dasar bak. tapi...pemirsa...pemirsa! tiba-tiba si selang nggak ngeluarin pasir item lagi. ada apa dengan selang?(AADS, ternyata eh ternyata, si selang keselek sabuh mandi yang ada di dasar bak. buset dah, mana muat tuh selang nyedot sabung segedek kepalan tangan. dengan rasa iba kepada selang, akhirnya aku melepaskan sabuh mandi dari mulut si selang. sementara selang melanjutkan aktivitasnya, akupun membersihkan sabun yang ternyata udah lembek banget kayak mentega!aduh..tega bener si adek yang nemplungin ni sabun ke bak. ini sabun udah selembut mentega. aku bener-bener nggak tega dengan sabun yang kaya mentega.uh..teganya..dena sabun mentega.(hitung berapa kaat 'tega'!). so, aku lumatkan aja tuh sabuh. pake sendok dan mangkon, sabun itu aku potong-potong and dilumatkan atau dipenyetkan. alhasil, jadilah sabun yang tadinya batang menjadi sabun colek..horeee!!!berhasil-berhasi, teriak dora dan wut!!!akhirnya, tuh sabun sekang nongkrong di kamar mandi. hari ini aku telah menyelamatkan sabun yang tidak berdosa. semoga tuh sabun bisa awet di dalam wadah bekas Chocokran punya adek Orie. jadi, tuh sabun maih dipakai walau statusnya udah berganti dari lajang ke menikah (lohh??) maksudnya dari sabun batang ke sabung celek. hahah .sabun said: makasih uwie..
Senin, 07 Juni 2010
2. Persyaratan peserta sebagai berikut:
a. Mahasiswa diploma dan S-1 yang masih aktif di PTN atau PTS yang
dibuktikan dengan Kartu Mahasiswa.
b. Batas usia maksimal 25 tahun per 1 Januari 2010.
c. Peserta harus mendapatkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Wakil/Pembantu Rektor /Ketua/Direktur/ Bidang Kemahasiswaan PT masing-masing.
d. Mahasiswa harus didaftarkan dan tergabung dalam tim/kontingen Pengprov
BPSMI masing-masing.
e. Dalam perlombaan peserta mewakili Perguruan Tinggi ( PTN/PTS ) dan
Pengprov BPSMI, yang terdiri dari utusan PT di BPSMI yang bersangkutan.
f. Seorang mahasiswa hanya diperbolehkan mengikuti satu tangkai seni yang
bersifat tunggal/solo.
g. Setiap Pengprov BPSMI maksimal berhak mengikutsertakan satu peserta ( perseorangan atau regu / kelompok ) untuk satu tangkai seni, kecuali seni lukis, poster, fotografi, penulisan cerpen, penulisan lakon, puisi, dan film pendek.
h. Peserta tidak boleh diganti mahasiswa lain. Apabila sudah mendapat
pengesahan dari panitia.
i. Peserta menyerahkan pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 4 lembar, dengan
memakai jaket almamater.
j. Mahasiswa peserta (baik perorangan maupun kelompok) yang telah memenuhi persyaratan sebagai peserta, maka panitia harus memberikan ID Card sesuai fungsinya atau jenis lomba yang diikuti.
i. Peserta dinyatakan gugur apabila tidak memenuhi persyaratan ini
l. Peserta dapat didampingi oleh official, yang merupakan personal yang mempunyai tugas tertentu dalam menunjang keperluan para peserta lomba dalam satu tim/kontingen. m. Official dapat berasal dari kalangan mahasiswa atau dosen pembimbing mahasiswa lainnya
n. Jumlah official dalam satu tim pengda BPSMI tidak melebihi 50% dari jumlah peserta yang didaftarkan
Sistem Lomba dan Penentuan Pemenang
1. Penentuan Finalis
a. Tim juri menentukan peserta yang memperoleh nilai tertinggi sebagai finalis, kecuali tangkai seni tertentu yang pemenangnya ditentukan langsung dalam satu tahapan, tidak melalui tahap finalis.
b. Jika terdapat dua orang atau lebih peserta yang nilainya sama, maka ketentuan finalisnya didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian pertama. Jika masih sama, didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian urutan kedua, dan seterusnya. Jika masih sama, dimungkinkan adanya finalis lebih dari tiga.
2. Penentuan Pemenang
a. Berdasarkan rangking nilai para finalis yang ditentukan oleh Tim Juri, maka peserta yang mendapat nilai tertinggi dinyatakan sebagai pemenang pertama, dan seterusnya sesuai dengan ranking.
b. Apabila dua atau lebih finalis yang memperoleh nilai yang sama, maka pemenangnya ditetapkan berdasarkan ketentuan yang telah diatur dalam penentuan finalis.
3. Penentuan Juara Umum
a. Juara umum ditetapkan oleh Dewan Juri, bukan oleh Tim Juri
b. Juara umum adalah Pengprov BPSMI yang memperoleh jumlah nilai tertinggi
dari semua jenis tangkai lomba yang dipertandingkan/diperlombakan
c. Predikat juara umum terdiri dari:
•Pemenang pertama,
•Pemenang kedua,
•Pemenang ketiga.
4. Apabila nilai juara umum ada yang sama, maka juaranya ditetapkan berdasarkan nilai tertinggi dari tangkai lomba tari. Apabila masih terjadi kesamaan nilai, maka penentuan berdasarkan nilai tertinggi dari tangkai lomba Vokal Group, dan seterusnya sesuai dengan urutan pada tangkai lomba wajib.
5. Apabila tangkai lomba yang dipertandingkan/diperlombakan pesertanya kurang dari lima, maka tangkai lomba tersebut tidak diperhitungkan dalam penentuan juara umum.
D. Lomba Baca Puisi
1. Ketentuan Umum
a. Setiap Pengprov BPSMI hanya boleh mengirimkan peserta maksimal 2 (dua)
orang (satu putra dan satu putri).
b. Dalam pembacaan (lomba) tidak boleh menggunakan alat pengiring baik yang
dimainkan sendiri maupun yang dimainkan orang lain.
c. Lomba dibagi dalam 2 (dua) babak, yaitu babak penyisihan dan babak final.
d. Pada babak penyisihan maupun babak final peserta hanya membacakan satu
puisi dari 30 judul yang disediakan panitia.
e. Puisi yang dibacakan pada babak final berbeda dengan yang dibacakan pada
babak penyisihan.
f.
Finalis diambil sebanyak 15 orang.
g. Puisi yang dibacakan diambil salah satu dari judul-judul sebagai beriku
1 Asmaradana
Goenawan Mohamad
2 Membaca Tanda-tanda
Taufiq Ismail
3 Padamu Jua
Amir Hamzah
4 Menuju ke Laut
St Takdir Alisyahbana
5 Gadis Kita
Afrizal Malna
6 Surat dari Ibu
Asrul Sani
7 Masih Ada Doa
Mustofo W.Hasyim
8 Gadis Perminta-minta
Toto Sudarto Bachtiar
9 Gugur
WS. Rendra
10 Perjalanan Kubur
Sutardji Calzoum
11 Manusia Pertama di Angkasa Luar (Subagyo Sastrowardoyo )
12 Ziarah
Sapardji Djoko Damono
13 Cipasung
Acep Zam-zam Noor
14 Istri
Darmanto Jatman
15 Ibu di Desa
Linus Suryadi Ag
16 Dialog Bukit Kamboja
D. Zawawi Imron
17 Sembahyang Rumputan
Ahmadun Yosi Harfanda
18 Puisi Jalanan
Emha Ainun Nadjib
19
Di Bawah Kibaran Bendera
Imam Budi Santosa
20 Rakyat
Hortojo Andangdjaja
21 Sajak Palsu
Agus R. Sarjono
22 Api
Kuntowijoyo
23 Mendiami Rumah Belati
Ari Setya Ardhi
24 Wajah Kita
Hamid Jabbar
25 Le Poete Maudir
Wing Kardjo
26 Meditasi
Abdul Hadi W. M
27 Tugu Pahlawan
Arifuddin Siraj
28
Si Anak Hilang
Sitor Situmorang
29 Ibumawibu
Dasri Al Mubary
30 Syiwa Nataraja
Sanusi Pane
2. Penilaian:
a. Penampilan : Ketapatan penafsiran, jeda, tekanan
b. Penghayatan : Ketetapan/takaran rasa, totalitas emosi
c. Vokal
: Kenyaringan, kejelasan artikulasi, intonasi
3. Penampilan: penyajian secara lisan, ekspresi fisik, wajah, anggota tubuh,
keutuhan.
Contact Person:1. Ahmad Benyamin, SE.,
HP: 08524508669
Juri Loba Baca Puisi
Ahmadun Y Herfanda
Jose Rizal Manua
Yoseph Odillo Oendoen
a. Mahasiswa diploma dan S-1 yang masih aktif di PTN atau PTS yang
dibuktikan dengan Kartu Mahasiswa.
b. Batas usia maksimal 25 tahun per 1 Januari 2010.
c. Peserta harus mendapatkan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Wakil/Pembantu Rektor /Ketua/Direktur/ Bidang Kemahasiswaan PT masing-masing.
d. Mahasiswa harus didaftarkan dan tergabung dalam tim/kontingen Pengprov
BPSMI masing-masing.
e. Dalam perlombaan peserta mewakili Perguruan Tinggi ( PTN/PTS ) dan
Pengprov BPSMI, yang terdiri dari utusan PT di BPSMI yang bersangkutan.
f. Seorang mahasiswa hanya diperbolehkan mengikuti satu tangkai seni yang
bersifat tunggal/solo.
g. Setiap Pengprov BPSMI maksimal berhak mengikutsertakan satu peserta ( perseorangan atau regu / kelompok ) untuk satu tangkai seni, kecuali seni lukis, poster, fotografi, penulisan cerpen, penulisan lakon, puisi, dan film pendek.
h. Peserta tidak boleh diganti mahasiswa lain. Apabila sudah mendapat
pengesahan dari panitia.
i. Peserta menyerahkan pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 4 lembar, dengan
memakai jaket almamater.
j. Mahasiswa peserta (baik perorangan maupun kelompok) yang telah memenuhi persyaratan sebagai peserta, maka panitia harus memberikan ID Card sesuai fungsinya atau jenis lomba yang diikuti.
i. Peserta dinyatakan gugur apabila tidak memenuhi persyaratan ini
l. Peserta dapat didampingi oleh official, yang merupakan personal yang mempunyai tugas tertentu dalam menunjang keperluan para peserta lomba dalam satu tim/kontingen. m. Official dapat berasal dari kalangan mahasiswa atau dosen pembimbing mahasiswa lainnya
n. Jumlah official dalam satu tim pengda BPSMI tidak melebihi 50% dari jumlah peserta yang didaftarkan
Sistem Lomba dan Penentuan Pemenang
1. Penentuan Finalis
a. Tim juri menentukan peserta yang memperoleh nilai tertinggi sebagai finalis, kecuali tangkai seni tertentu yang pemenangnya ditentukan langsung dalam satu tahapan, tidak melalui tahap finalis.
b. Jika terdapat dua orang atau lebih peserta yang nilainya sama, maka ketentuan finalisnya didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian pertama. Jika masih sama, didasarkan pada nilai tertinggi bidang penilaian urutan kedua, dan seterusnya. Jika masih sama, dimungkinkan adanya finalis lebih dari tiga.
2. Penentuan Pemenang
a. Berdasarkan rangking nilai para finalis yang ditentukan oleh Tim Juri, maka peserta yang mendapat nilai tertinggi dinyatakan sebagai pemenang pertama, dan seterusnya sesuai dengan ranking.
b. Apabila dua atau lebih finalis yang memperoleh nilai yang sama, maka pemenangnya ditetapkan berdasarkan ketentuan yang telah diatur dalam penentuan finalis.
3. Penentuan Juara Umum
a. Juara umum ditetapkan oleh Dewan Juri, bukan oleh Tim Juri
b. Juara umum adalah Pengprov BPSMI yang memperoleh jumlah nilai tertinggi
dari semua jenis tangkai lomba yang dipertandingkan/diperlombakan
c. Predikat juara umum terdiri dari:
•Pemenang pertama,
•Pemenang kedua,
•Pemenang ketiga.
4. Apabila nilai juara umum ada yang sama, maka juaranya ditetapkan berdasarkan nilai tertinggi dari tangkai lomba tari. Apabila masih terjadi kesamaan nilai, maka penentuan berdasarkan nilai tertinggi dari tangkai lomba Vokal Group, dan seterusnya sesuai dengan urutan pada tangkai lomba wajib.
5. Apabila tangkai lomba yang dipertandingkan/diperlombakan pesertanya kurang dari lima, maka tangkai lomba tersebut tidak diperhitungkan dalam penentuan juara umum.
D. Lomba Baca Puisi
1. Ketentuan Umum
a. Setiap Pengprov BPSMI hanya boleh mengirimkan peserta maksimal 2 (dua)
orang (satu putra dan satu putri).
b. Dalam pembacaan (lomba) tidak boleh menggunakan alat pengiring baik yang
dimainkan sendiri maupun yang dimainkan orang lain.
c. Lomba dibagi dalam 2 (dua) babak, yaitu babak penyisihan dan babak final.
d. Pada babak penyisihan maupun babak final peserta hanya membacakan satu
puisi dari 30 judul yang disediakan panitia.
e. Puisi yang dibacakan pada babak final berbeda dengan yang dibacakan pada
babak penyisihan.
f.
Finalis diambil sebanyak 15 orang.
g. Puisi yang dibacakan diambil salah satu dari judul-judul sebagai beriku
1 Asmaradana
Goenawan Mohamad
2 Membaca Tanda-tanda
Taufiq Ismail
3 Padamu Jua
Amir Hamzah
4 Menuju ke Laut
St Takdir Alisyahbana
5 Gadis Kita
Afrizal Malna
6 Surat dari Ibu
Asrul Sani
7 Masih Ada Doa
Mustofo W.Hasyim
8 Gadis Perminta-minta
Toto Sudarto Bachtiar
9 Gugur
WS. Rendra
10 Perjalanan Kubur
Sutardji Calzoum
11 Manusia Pertama di Angkasa Luar (Subagyo Sastrowardoyo )
12 Ziarah
Sapardji Djoko Damono
13 Cipasung
Acep Zam-zam Noor
14 Istri
Darmanto Jatman
15 Ibu di Desa
Linus Suryadi Ag
16 Dialog Bukit Kamboja
D. Zawawi Imron
17 Sembahyang Rumputan
Ahmadun Yosi Harfanda
18 Puisi Jalanan
Emha Ainun Nadjib
19
Di Bawah Kibaran Bendera
Imam Budi Santosa
20 Rakyat
Hortojo Andangdjaja
21 Sajak Palsu
Agus R. Sarjono
22 Api
Kuntowijoyo
23 Mendiami Rumah Belati
Ari Setya Ardhi
24 Wajah Kita
Hamid Jabbar
25 Le Poete Maudir
Wing Kardjo
26 Meditasi
Abdul Hadi W. M
27 Tugu Pahlawan
Arifuddin Siraj
28
Si Anak Hilang
Sitor Situmorang
29 Ibumawibu
Dasri Al Mubary
30 Syiwa Nataraja
Sanusi Pane
2. Penilaian:
a. Penampilan : Ketapatan penafsiran, jeda, tekanan
b. Penghayatan : Ketetapan/takaran rasa, totalitas emosi
c. Vokal
: Kenyaringan, kejelasan artikulasi, intonasi
3. Penampilan: penyajian secara lisan, ekspresi fisik, wajah, anggota tubuh,
keutuhan.
Contact Person:1. Ahmad Benyamin, SE.,
HP: 08524508669
Juri Loba Baca Puisi
Ahmadun Y Herfanda
Jose Rizal Manua
Yoseph Odillo Oendoen
Jumat, 28 Mei 2010
Luv U Ichiko (my first novel)
Snow
Salju. Dari kecil aku selalu ingin merasakan butiran salju di tanganku. Merasakan bagaimana es putih lembut itu membuat dingin kulitku. Aku ingin merasakan hawa dingin keluar dari kedua hidungku dan ketika aku bicara, ada asap-asap yang keluar dari mulutku, seolah-olah aku adalah manusia yang biasa mengeluarkan asap dari mulut. Aku ingin merasakan bagaimana hidung yang membiru karena kedinginan. Aku sangat ingin memakai baju-baju tebal dan mengenakan shal di leher. Aku ingin membungkus kedua tanganku dengan sarung tangan. Ingin memakai topi dari bahan wol yang hangat. Itulah yang aku inginkan ketik pertama kali, saat usai 5 tahun, tepatnya ketika aku tonton video rekaman Om Gun waktu di Prancis. Jelas-jelas mereka membuat aku iri. Lalu aku buru-buru ke kamar. Mengemas pakaian buat ke Prancis. aku sudah rapi dengan pakaian yang super gede, tapi ketika kuajak ajah ke prancis, ayah malah ketawa. Aku tak mengerti. Apa ayah nggak mau ke prancis? Apa Ayah nggak mau merasakan ada asap yang keluar dari mulutnya saat lagi ngomong? Aku heran!!dan tiba-tiba aku merengek ingin ke prancis.
Aku benar-benar nggak tahu kalo Prancis jauh. Ku pikir cukup naik mobil dan sampai!! Tapi...ternyata nggak. Prancis jauh. Jauh banget. Gitu kata ayah, but...aku tetaplah anak kecil waktu itu, yang aku bisa cuma merengek manja sampai akhirnya bunda membuatkan aku coklat panas, my favourite drink. Aku segera menghapus ingus yang sempat meleleh dan berlari ke pelukan bunda.
^_^
Aku pasti nggak akan melupakan moment-momen keluguan seorang Runi waktu itu. Seorang Aruni sakura yang menginginkan tumpukan salju di depan rumahnya. Menginginkan musim salju padahal tinggal di daerah iklim tropis, Indonesia.
Bip!!Bip!! suara alaram hpku berbunyi. Tepat pukul 00.00. semua orang membunyikan terompet tahun baru tanpa dikomandoi. Langit Tokyo seperti lautan kembang api. Cantik dan meriah. Apalagi salju turun. Bener-benr tahun baru yang menyenangkan. Hari ini adalah hari pertamaku di tahun 2015. Ada perasaan yang bergejolak. Ada rindu yang menyeskkan dada. Ada sosok yang tak pernah luput dari memori otakku.
Semakin malam menara Tokyo semakin menunjukkan kecantikan dan keanggunannya. Semuanya berbagi keceriaan di tahun baru. Berbagi cinta dan kasih. Ngomong-ngomong tentang cinta…Cinta telah mengantarkan aku sampai ke Tokyo. Cinta telah menggeserkan Eiffell dan menggantikannya dengan menara Tokyo. Dan sekarang...apakah waktu akan menggeser cintaku. Menggeser bayangan Riyo yang lama bercokol di hatiku. Riyo..aku sangat merindukannya. Merinukan detik-detik perkelahin dengannya. Merindukan senyumnya yang kadng membutku diam-diam mencintainy. Merindukan semua yang ada pada Riyo.
Aku memandang langit Tokyo yang teramat menakjubkan oleh kembang api. Tokyo memang indah. Benar-benar indah... aku akan menghabiskan malam pergntian tahun di lantai tertinggi menara Tokyo. Menghadap ke jendela yang menampilkan pemandangan Tokyo di malam tahun baru. Banyaknya lampu-lampu jalan bagikan lautan kunang-kunang malam. Begitulah kata-kata Riyo yang kuingat lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu...lima tahun yang lalu...
Winner!
“ Dan…juara umum I kelas XI jatuh pada..... Aruni Sakura!!!“ kata pak Samsul dengan nada setengah berteriak.
Aku berjalan keluar barisan upacara. Hari ini adalah hari kemenanganku yang spesial. Hari yang bener-bener membuktikn kalau seorang Aruni bisa jadi juaram umum lagi. Ayah...aku pasti bisa memenngkan taruhan ayah dan kan mendapatkan beasiswa ke Prancis. Satu tahun lagi..satu tahun lagi aku akan ke Prancis..eiffel, I’m comming!!! Batinku smbil berjalan ke podium upacara.
“beri tepuk tangan yang meriah atas prestasi Aruni sakura!!“ kata Pak Samsul antusias. Tak lama Pak kepala sekolah memeberikan piagan dn tropi juar umum padaku disusul ucapn selamat dari guru yang masing-masing mengembangkan senyumnya. Aku merasa untuk beberapa saart, sekitar 380 pasang mata tertuju ke arahku. Mendapatkan prestasi belajar emang sebuah kebanggaan tersendiri bagiku. I love it so much...
“ selamat ya, Run”..kata Fili setibaku di barisan kelas.
“thanks ya, Fil.“ Aku membalasnya dengan senyum yang mengembang.
“selamat ya, Runi. Lo emang jagonya sekolah. Smart girl“ ujar Adnan yang membuat napsaku kempang kempis saat dia menyalami tanganku.
Adnan berlalu meninggalkan ku yang nyaris pingsan karenanya. Dialah Adnan, cowok yang membuat adrenalinku mengalir lebih cepat, membuat urat saraf sensoris menyampikan ke efektor kalau aku mulai suka padanya
“run? Runi? Hallo?“
„i..iya, Fil? What’s wrong?“
“ye…harusnya gue yang nanya, what wrong with u, Runi?” kata fili smbil ngemut lollipop strowberry.
“udah ah..mending kita masuk kelas.!”kataku mayun dan Fili mengiringiku kesal.
Hari ini hari pertamaku di sekolah. Setelah libur panjang, sekarang aku masuk lagi. Masuk ke kehidupan sekolah yang warna-warni. Apalagi ada murid baru yang lagunya mulai bertingkah. Dasar!!
„kenapa Run. Kok sewot?“
„sapa yang sewot. Gue Cuma heran aja, murid-murid baru sekarang oada belagu.“ kataku sambil menatap ke arah ruang Osis.
“em…gue tahu. Pasti lo sedng meratiin Adnan kan? Hayo ngaku?”
Aku balik ke bangjku. Meninggalkan fili yang masih berdiri di koridor kelas. Kenapa juga aku mesti sewot? Mungkin murid-murid baru itu dapaet tugas dari kakak tingkat. Sma kayak aku dan adnan dulu. Adnan kayaknya hanya menganggap aku temen. Just friend. Hubungan yang bener-bener menyakitkn bagi cewek yng teramat mengagumi adnan. Kenyataan yang mestinya harus kuakui dari dulu. Apa cerita suksesku Cuma ada di peljaran doang? Huh…Aruni! wake up!!
“run…lo kenal Onal nggak? Anak Band sekolah. Onal si vokalis itu.”
Aku mengangguk. Ku lihat ada perubahan dengan rona wajh Fili…atau jngn-jangan.
“lo suka sama Onal?”
“kok..lo tahu si, Run!” katanya sewot tapi pipinya udah kayak lopster rebus.
“fili..lo nggak bisa boong. Kita udh lama sahabatan. Gue udah paham karakteristik lo suka sama cowok. Tanda-tandanya gue udah paham.“
“kita udah jadian!!“ ktanya malu-malu.
“jadian? Kapan? Kok lo nggak pernah cerita? Ciye-ciye yang lagi kasmaran. Sama vokalis , rock stra!! “
„“bisa aja lo, Run. Gue jadian pas ada champing di puncak. Yang waktu itu lo batal ikut. Makanya gue baru cerita sekarang. Onal membak gue pas acara api unggun. Dia nembak gue, run. Dia nembak gue!!”
“bahaya dong. Ntar lo mati. Ditembakkin sama onal. Dor!Dor! hehe…”
“ih…bukan gitu!gimana sih..dia nembak gue pake lagu..rumantis kan. Lagunya Slank..pandangan pertama!! Cob kalo lo ikut waktu itu, pasti lo ngiri deh!”
Bener kata Fili, coba waktu itu aku ikut. Seenggaknya aku bisa lebih deket sama Adnan. Tapi.. Bunda bilng ini itu.. dditambah lagi, katanya ada tamu. Buktinya, tuh tamu nggak datenga-dateng sampe sekarang. Tamu apaan tuh! nggak on time.. gara-gara dia, rencanaku ikut Champing gatot!!
Tiba-tiba soundtrack princess hour berbunyi.
Kulihat bunda calling…
“ya, bungda?”
“Runi, kalau sekolahnya selesai cepet pulang ya. Jangan kemana-mana..oke!”
Tut..tut…
Uh..always like that!!
“tnte Fika ya?”
“iya nih..Bunda ngingatin buat cepet pulang. Gimana gue dapet pangeran kalo abis sekolah langsung pulang ke rumah.”
“loh? Emang lo pingin puny pangeran?”
“iya, dong Fil. Gue sama kayak loe. Masih suka sama yang naamnya cowok.apalagi yang inisail A. paham ente?
“ o…gitu..kirain dah nggak doyan cowok.hehe. inisia A? siapa, Run?”
“pikir ndiri!”
^_^
Uh…capek banget!! Panas-panas jalan ke komplek. Ini semua gara-gara Ayah sama bunda!! Masak nggak dibolehin bawa mobil. Aneh-aneh aja deh!! Dan udah seminggu aku mesti jalan kaki dari depan komplek ke rumah. Coba istrinya mang Robin nggak ngelhirin..loh..loh..kok aku malah nyalahin mang Robin?
Aku menaiki anak tyangga dan menuju ke kamar. Ku pandangi poster gede bergambar eiffel. Satu taon lagi aku pasti ke sana! Ya...ku pasti ke Eiffel. Candle light dinnaer sambil mandang Eiffel. Bener-bener romantis.
Kurebahkan badanku ke spring bed. Dan perlahan kelopak mataku tertutup.
Satu per satu salju turun dari langit. udara yang dingin telah menusuk-nusuk tulangku. Tanganku mulai susah digerakkan karena beku. Gaun selembut kapas dan seputih salju kukenakan. Bener-benar cantik. Tapi...aku mulai kaku...dingin..dan bibirku gemetaran. Tiba-tiba...seseorang meragngkulku dan kumasuk dalam pelukan yang hangat. Pelukan yang kini membuatku lebih hangat seperti aku sedang memakai mantel tebal. Dan bibir tipis itu mengecup bibirku.
Tok..tok..tok...
Terdengar suara ketokan pintu. Aku terbangun.
„runi!!runi kamu di dalam?“
„i..iya bunda. Runi di dalam“?
Segera kubuka pintu dan wajah panik bunda mulai terpasang.
“runi...kamu belum ganti baju? Baru pulang. Duh...cepet ganti baju dan makan. Oke“
“iya..bunda“
Aku merapikan rambutku di depan meja rias.
Mimpi itu lagi. Batinku.
Aku mengambil hp di tas.
“lagi? Seru filli dari hanphone.
„iya, fil. Trus gue mesti gimana dong?“
“Tanya aja sama Issac Newton, Phytagoras, atao galeleo..hehe”
“gue serius Fill. Tadi cowok itu…nyium gue..”
“what? Nyium? Kiss to kiss? Lo inget mukanya?”
“nggak!”
“em…udah dech. Kita liat aja kelanjutannya. Atau..jangn-jangan lo bakal merid pas kita tmat.”
“hus…sembarangan!! Doain yang baik kek! Celutukku.
“sorri dech…oiyah…”
Sedikitpun tak terdengar suara filli.
“hallo? Hallo, fil?
Duh…hpku low bat lagi!!
Segera kututup pembicaraan dengan Filli. Whateverlah, lagian pasti filli bakal ngeledekin abis-abusan tentang mimpiku akhir-akhir ini. Pastinya sobatku itu bakal cekikikan sampai napasnya bengek. Sebenarnya aneh juga sih..sepuluh hari berturu-turut mimpi gue sama mulu! Dengan seseorang yang datang tiba-tiba padaku. Aku yang pake gaun. Banyak orang kayak lagi party, dan aku kayak lagi make gaun pengantin? Gaun pengantin? Bener! Itu yang aku alamin selama 10 hari berturut-turut.
Salju. Dari kecil aku selalu ingin merasakan butiran salju di tanganku. Merasakan bagaimana es putih lembut itu membuat dingin kulitku. Aku ingin merasakan hawa dingin keluar dari kedua hidungku dan ketika aku bicara, ada asap-asap yang keluar dari mulutku, seolah-olah aku adalah manusia yang biasa mengeluarkan asap dari mulut. Aku ingin merasakan bagaimana hidung yang membiru karena kedinginan. Aku sangat ingin memakai baju-baju tebal dan mengenakan shal di leher. Aku ingin membungkus kedua tanganku dengan sarung tangan. Ingin memakai topi dari bahan wol yang hangat. Itulah yang aku inginkan ketik pertama kali, saat usai 5 tahun, tepatnya ketika aku tonton video rekaman Om Gun waktu di Prancis. Jelas-jelas mereka membuat aku iri. Lalu aku buru-buru ke kamar. Mengemas pakaian buat ke Prancis. aku sudah rapi dengan pakaian yang super gede, tapi ketika kuajak ajah ke prancis, ayah malah ketawa. Aku tak mengerti. Apa ayah nggak mau ke prancis? Apa Ayah nggak mau merasakan ada asap yang keluar dari mulutnya saat lagi ngomong? Aku heran!!dan tiba-tiba aku merengek ingin ke prancis.
Aku benar-benar nggak tahu kalo Prancis jauh. Ku pikir cukup naik mobil dan sampai!! Tapi...ternyata nggak. Prancis jauh. Jauh banget. Gitu kata ayah, but...aku tetaplah anak kecil waktu itu, yang aku bisa cuma merengek manja sampai akhirnya bunda membuatkan aku coklat panas, my favourite drink. Aku segera menghapus ingus yang sempat meleleh dan berlari ke pelukan bunda.
^_^
Aku pasti nggak akan melupakan moment-momen keluguan seorang Runi waktu itu. Seorang Aruni sakura yang menginginkan tumpukan salju di depan rumahnya. Menginginkan musim salju padahal tinggal di daerah iklim tropis, Indonesia.
Bip!!Bip!! suara alaram hpku berbunyi. Tepat pukul 00.00. semua orang membunyikan terompet tahun baru tanpa dikomandoi. Langit Tokyo seperti lautan kembang api. Cantik dan meriah. Apalagi salju turun. Bener-benr tahun baru yang menyenangkan. Hari ini adalah hari pertamaku di tahun 2015. Ada perasaan yang bergejolak. Ada rindu yang menyeskkan dada. Ada sosok yang tak pernah luput dari memori otakku.
Semakin malam menara Tokyo semakin menunjukkan kecantikan dan keanggunannya. Semuanya berbagi keceriaan di tahun baru. Berbagi cinta dan kasih. Ngomong-ngomong tentang cinta…Cinta telah mengantarkan aku sampai ke Tokyo. Cinta telah menggeserkan Eiffell dan menggantikannya dengan menara Tokyo. Dan sekarang...apakah waktu akan menggeser cintaku. Menggeser bayangan Riyo yang lama bercokol di hatiku. Riyo..aku sangat merindukannya. Merinukan detik-detik perkelahin dengannya. Merindukan senyumnya yang kadng membutku diam-diam mencintainy. Merindukan semua yang ada pada Riyo.
Aku memandang langit Tokyo yang teramat menakjubkan oleh kembang api. Tokyo memang indah. Benar-benar indah... aku akan menghabiskan malam pergntian tahun di lantai tertinggi menara Tokyo. Menghadap ke jendela yang menampilkan pemandangan Tokyo di malam tahun baru. Banyaknya lampu-lampu jalan bagikan lautan kunang-kunang malam. Begitulah kata-kata Riyo yang kuingat lima tahun yang lalu. Lima tahun yang lalu...lima tahun yang lalu...
Winner!
“ Dan…juara umum I kelas XI jatuh pada..... Aruni Sakura!!!“ kata pak Samsul dengan nada setengah berteriak.
Aku berjalan keluar barisan upacara. Hari ini adalah hari kemenanganku yang spesial. Hari yang bener-bener membuktikn kalau seorang Aruni bisa jadi juaram umum lagi. Ayah...aku pasti bisa memenngkan taruhan ayah dan kan mendapatkan beasiswa ke Prancis. Satu tahun lagi..satu tahun lagi aku akan ke Prancis..eiffel, I’m comming!!! Batinku smbil berjalan ke podium upacara.
“beri tepuk tangan yang meriah atas prestasi Aruni sakura!!“ kata Pak Samsul antusias. Tak lama Pak kepala sekolah memeberikan piagan dn tropi juar umum padaku disusul ucapn selamat dari guru yang masing-masing mengembangkan senyumnya. Aku merasa untuk beberapa saart, sekitar 380 pasang mata tertuju ke arahku. Mendapatkan prestasi belajar emang sebuah kebanggaan tersendiri bagiku. I love it so much...
“ selamat ya, Run”..kata Fili setibaku di barisan kelas.
“thanks ya, Fil.“ Aku membalasnya dengan senyum yang mengembang.
“selamat ya, Runi. Lo emang jagonya sekolah. Smart girl“ ujar Adnan yang membuat napsaku kempang kempis saat dia menyalami tanganku.
Adnan berlalu meninggalkan ku yang nyaris pingsan karenanya. Dialah Adnan, cowok yang membuat adrenalinku mengalir lebih cepat, membuat urat saraf sensoris menyampikan ke efektor kalau aku mulai suka padanya
“run? Runi? Hallo?“
„i..iya, Fil? What’s wrong?“
“ye…harusnya gue yang nanya, what wrong with u, Runi?” kata fili smbil ngemut lollipop strowberry.
“udah ah..mending kita masuk kelas.!”kataku mayun dan Fili mengiringiku kesal.
Hari ini hari pertamaku di sekolah. Setelah libur panjang, sekarang aku masuk lagi. Masuk ke kehidupan sekolah yang warna-warni. Apalagi ada murid baru yang lagunya mulai bertingkah. Dasar!!
„kenapa Run. Kok sewot?“
„sapa yang sewot. Gue Cuma heran aja, murid-murid baru sekarang oada belagu.“ kataku sambil menatap ke arah ruang Osis.
“em…gue tahu. Pasti lo sedng meratiin Adnan kan? Hayo ngaku?”
Aku balik ke bangjku. Meninggalkan fili yang masih berdiri di koridor kelas. Kenapa juga aku mesti sewot? Mungkin murid-murid baru itu dapaet tugas dari kakak tingkat. Sma kayak aku dan adnan dulu. Adnan kayaknya hanya menganggap aku temen. Just friend. Hubungan yang bener-bener menyakitkn bagi cewek yng teramat mengagumi adnan. Kenyataan yang mestinya harus kuakui dari dulu. Apa cerita suksesku Cuma ada di peljaran doang? Huh…Aruni! wake up!!
“run…lo kenal Onal nggak? Anak Band sekolah. Onal si vokalis itu.”
Aku mengangguk. Ku lihat ada perubahan dengan rona wajh Fili…atau jngn-jangan.
“lo suka sama Onal?”
“kok..lo tahu si, Run!” katanya sewot tapi pipinya udah kayak lopster rebus.
“fili..lo nggak bisa boong. Kita udh lama sahabatan. Gue udah paham karakteristik lo suka sama cowok. Tanda-tandanya gue udah paham.“
“kita udah jadian!!“ ktanya malu-malu.
“jadian? Kapan? Kok lo nggak pernah cerita? Ciye-ciye yang lagi kasmaran. Sama vokalis , rock stra!! “
„“bisa aja lo, Run. Gue jadian pas ada champing di puncak. Yang waktu itu lo batal ikut. Makanya gue baru cerita sekarang. Onal membak gue pas acara api unggun. Dia nembak gue, run. Dia nembak gue!!”
“bahaya dong. Ntar lo mati. Ditembakkin sama onal. Dor!Dor! hehe…”
“ih…bukan gitu!gimana sih..dia nembak gue pake lagu..rumantis kan. Lagunya Slank..pandangan pertama!! Cob kalo lo ikut waktu itu, pasti lo ngiri deh!”
Bener kata Fili, coba waktu itu aku ikut. Seenggaknya aku bisa lebih deket sama Adnan. Tapi.. Bunda bilng ini itu.. dditambah lagi, katanya ada tamu. Buktinya, tuh tamu nggak datenga-dateng sampe sekarang. Tamu apaan tuh! nggak on time.. gara-gara dia, rencanaku ikut Champing gatot!!
Tiba-tiba soundtrack princess hour berbunyi.
Kulihat bunda calling…
“ya, bungda?”
“Runi, kalau sekolahnya selesai cepet pulang ya. Jangan kemana-mana..oke!”
Tut..tut…
Uh..always like that!!
“tnte Fika ya?”
“iya nih..Bunda ngingatin buat cepet pulang. Gimana gue dapet pangeran kalo abis sekolah langsung pulang ke rumah.”
“loh? Emang lo pingin puny pangeran?”
“iya, dong Fil. Gue sama kayak loe. Masih suka sama yang naamnya cowok.apalagi yang inisail A. paham ente?
“ o…gitu..kirain dah nggak doyan cowok.hehe. inisia A? siapa, Run?”
“pikir ndiri!”
^_^
Uh…capek banget!! Panas-panas jalan ke komplek. Ini semua gara-gara Ayah sama bunda!! Masak nggak dibolehin bawa mobil. Aneh-aneh aja deh!! Dan udah seminggu aku mesti jalan kaki dari depan komplek ke rumah. Coba istrinya mang Robin nggak ngelhirin..loh..loh..kok aku malah nyalahin mang Robin?
Aku menaiki anak tyangga dan menuju ke kamar. Ku pandangi poster gede bergambar eiffel. Satu taon lagi aku pasti ke sana! Ya...ku pasti ke Eiffel. Candle light dinnaer sambil mandang Eiffel. Bener-bener romantis.
Kurebahkan badanku ke spring bed. Dan perlahan kelopak mataku tertutup.
Satu per satu salju turun dari langit. udara yang dingin telah menusuk-nusuk tulangku. Tanganku mulai susah digerakkan karena beku. Gaun selembut kapas dan seputih salju kukenakan. Bener-benar cantik. Tapi...aku mulai kaku...dingin..dan bibirku gemetaran. Tiba-tiba...seseorang meragngkulku dan kumasuk dalam pelukan yang hangat. Pelukan yang kini membuatku lebih hangat seperti aku sedang memakai mantel tebal. Dan bibir tipis itu mengecup bibirku.
Tok..tok..tok...
Terdengar suara ketokan pintu. Aku terbangun.
„runi!!runi kamu di dalam?“
„i..iya bunda. Runi di dalam“?
Segera kubuka pintu dan wajah panik bunda mulai terpasang.
“runi...kamu belum ganti baju? Baru pulang. Duh...cepet ganti baju dan makan. Oke“
“iya..bunda“
Aku merapikan rambutku di depan meja rias.
Mimpi itu lagi. Batinku.
Aku mengambil hp di tas.
“lagi? Seru filli dari hanphone.
„iya, fil. Trus gue mesti gimana dong?“
“Tanya aja sama Issac Newton, Phytagoras, atao galeleo..hehe”
“gue serius Fill. Tadi cowok itu…nyium gue..”
“what? Nyium? Kiss to kiss? Lo inget mukanya?”
“nggak!”
“em…udah dech. Kita liat aja kelanjutannya. Atau..jangn-jangan lo bakal merid pas kita tmat.”
“hus…sembarangan!! Doain yang baik kek! Celutukku.
“sorri dech…oiyah…”
Sedikitpun tak terdengar suara filli.
“hallo? Hallo, fil?
Duh…hpku low bat lagi!!
Segera kututup pembicaraan dengan Filli. Whateverlah, lagian pasti filli bakal ngeledekin abis-abusan tentang mimpiku akhir-akhir ini. Pastinya sobatku itu bakal cekikikan sampai napasnya bengek. Sebenarnya aneh juga sih..sepuluh hari berturu-turut mimpi gue sama mulu! Dengan seseorang yang datang tiba-tiba padaku. Aku yang pake gaun. Banyak orang kayak lagi party, dan aku kayak lagi make gaun pengantin? Gaun pengantin? Bener! Itu yang aku alamin selama 10 hari berturut-turut.
BELUM BERJUDUL
Cinta itu butuh proses, Nad…kata-kata Kak Dani selalu terngiang di telingaku. Kalo cinta itu butuh proses, berarti cinta sudah berlaku tak adil padaku!! Ya…karena untuk mendapatkan sebuah proses butuh kesempatan..dan aku tak mendapatkan kesempatan itu. Tapi..tunggu, diralat…bukan ‘tak’ tapi aku ‘belum’ mendapatkan kesempatan itu. Setidaknya sampai detik ini. Apa aku harus membuat sendiri kesempatan? Entahlah..
“woi!! Pagi-bagi bengong di depan pintu!!” seru kak dani dari tempat Kost yang tak jauh dari Kost-an ku.
Aku mayun. Sedikit merapikan pakaianku dan bergegas mengunci pintu.
“kak Dani...mungkin kak Dani bener.“
“maksud kamu?“
“Ya...kak dani bener kalo cinta itu butuh proses. Tapi…itu berarti cinta kejam. Cinta itu sombong“
“loh…kok lo jadi sentimental gini, Nad. Kenapa? tell me dong!
“jadi gini, kak…”
“eh…bentar-bentar!!serobot kak dani memotong pembicaraanku.
Uh..dasar nggak sopan!! Ninggalin orang yang lagi ngomong! Aku berjalan keluar lorong kost an. Hari ini rencananya aku bakal rapat dengan Edo. Edo Fandinata. Pimpinan redaksi majalah kampus. kCowok yang entah kenapa membuat jantungku berdegub kencang ketika pertama kali melihatnya. Membuat peredaran darahku seolah mengalir dua kali lipat. Tapi...kenapa kesempatan buat deket dengan Edo nggak dateng-dateng. Aku berharap hari ini, presentasi film dokumenter sukses!!
Tin!! Tin!!
Suara motor Kak dani mengagetkanku.
“mo nebeng nggak??“ tanya kak dani ditambah senyum khasnya.
“nggak!!makasih!!“
“loh..kok jadi jutek gini!tadi sentimentil, sekarang jutek!!!lo cewek bukan sih, Nad“
“duh...brisik!! sekali nggak ya enggak!!“
“yaudah...kakak berangkat dulu yaw..dada bye-bye.“
@@@
Ruang rapat redaksi masih terkunci. Baru aku satu-satunya yang datang. Mungkin aku terlalu bersemangan buat menampilkan yang terbaik untuk edo. Aku ingin dunia tahu kalo aku bisa mendapatkan kesempatan. Kesempatan but dekat dengan pangeran yang selau membuat aku salah tingkah di depannya. Aku harus kendalikan emosiku. Aku harus fokus saat presentasi nanti.
Aku mengarahkan pandanganku ke luar ruangan. Motor King warna biru itu sudah terparkir. Itu artinya, my prince udah dating.
“hai…kamu?”
“ nadia, gue nadia, Do?”
“iya, lo nadia. Hai nad…oya, gue setuju banget kalo redaksi majalah kita bikin film documenter kampus. Gue super duper setuju.” Katanya dengan senyum yang bener-bener buat aku jatuh cinta. Tak lama, edo membuka pintu ruang rapat redaksi.
“nad...sebelumnya sori banget soalnya tmen-temen nggak bisa ikut rapat presentasi. Nggak apa-apa kan?“
„“em...it’s oke, Do. Nggak apa-apa. Ini konsep yang gue rancang.” Aku menyodorkan beberapa paper planning film documenter.
“great!! Lo emang cerdas. Smart girl!! Dan gue percayain lo yang jadi sutradara. Gimana?”
Oh my god!! Gue sutradara!! Dan itu artinya kesempatan gue sama edo akan datang. Cinta…I’m coming.
“nad..nadya? hallo? Lo ngelamun?”
“ng..nggak, Do. Gue Cuma lagi mikirin rencana sytting!” kataku yang sebenaernya boong.
“ yaudah.. gue belom sarapan tadi. Gue mau sarapan dulu. Lo ada kelas pagi ini?”
“nggak.gue masuk ntar siang”
“yaudah…mending lo ikut gue sarapan. Sekalian traktir karena lo udh bikini de keren tentang film.”
Aku nggak nyangka..ternyata otakku yang tadinya Cuma buat hal-hal formal sekarang berkembang ke arah hal-hal kreatif sesuai majalah. Ya...tentunya ini butuh proses buat ngonsep otakku ini jadi lebih anak muda. Ternya teori sebab akibat bener, jika kita berusaha kita akan dapatkan hasilnya. Siapa yang menanam, dia akan memetik buah. Aku pun begitu. Thanks god!!
Kunikmati sarapan nasi goreng chiken wings kesukaanku. Ternyata selera kami sama, aku dan edoi sama-sama suka nasi goreng chiken wings. Dan bagi seorang cewek sepertiku..ini adalah moment yang nggak terlupakan seumur hidup. Kau bisa bayangkan gimana rasanya jika perasaan yang tadinya sepihk kini mulai tumbuh. Dan itu yang kurasakan sekarang. I’m fall in love.
@@@
Tok..tok..tok...
Kudengar ada yang mengetok pintu. Siapa ya? Ah..paling kak dani.
dan bener..
“hai, nad...“
“hai, kak. Oiya...aku ada cerita nich...“
“eit…ntar dulu, nad. Kita ceritanya di warung sate aja ya.”
“nggak ah…aku lagi bokek.” Kataku sambil menutup pintu.
“tunggu Nad…Kakak yang traktir.” Seru kak dani dari luar.
Aku segera mengambil jaketku. Malam ini tumben-tumbenan kak dani traktir makan. Biasanya juga di minta masakin mie. Uh..dasar!! tapi nggk pa-pa deh...sekalian aku mo cerita sama kak dani tentang tadi pagi.
„“kak...bawa motornya lambet banget. Kayak cewek baru belajar naek motor.“ protesku di belkang kak dani.
„“yaudah..nih..kakak nguebut.“ Seketika kak dani menambah kecepatan dan wooowww....
Aku paling seneng makan seate. Apalagi sate ayam. It’s my favourite food!!
“loh…kok kak dani nggak makan.” Kataku setelah menghabiskan lima tusuk sate.
“kakak nggak suka sate. Kamu lupa ya.“
“aku lupa kak..abisnya kak Dani itu nggak terkenal, jadi nggak penting-penting amat.“
“uh..dsar klamu nad. Udah ditraktiris masih aja ngeledek. Dasar parasit. Mau ditraktirin..mu dianterin...“ ledek Kak dani sambil nyanyi ala gita gutawa.
Selesai makan, kami langsung ninggalin warung sate.
Kak dani payah. Masak cuma nungguin aku doang. Itumah bukan makan-makan, tapi makan sambil ditunggyuin. Emang aku anak kecil. Coba kalo malem ini jlan ke TK deket kost. Kan enak maen prosotan. Trus ngidupin kembang api kayak childhood.
“mo kemana, kak?” kataku saat ka dani membelokkan motornya ke pertigaan.
Aku tersenyum. Perasaan tadi aku ngomong dalam hari. Tapi..kenapa kak dani bisa tahu kalo aku mau ke TK.
“anak TK. Udah sampe. Anak TK mau maen prosotan kan“ ledeknya sambil mematikan mesin motor.
Tanpa disuruh kak Dani pun, aku sudah ngacir duluan di prosotan dan seperti biasa aku memandang bintang-bintang kecil yang jumlahnya ribuah di langit malam.
“oya, kak...ternyata apa yang Kak dani bilang dulu bener. Cinta itu butuh proses. Sekarang pun gitu. Aku harus mencipatakan kesempatan untuk deket5 denagn Edo. Hari ini kesempatan itu datang. I ‚m happy so much...“
“bagus dong!berarti kuping kak dani bisa normal lagi. Nggak akan denger curhatan kamu yang aneh itu.
“woi!! Pagi-bagi bengong di depan pintu!!” seru kak dani dari tempat Kost yang tak jauh dari Kost-an ku.
Aku mayun. Sedikit merapikan pakaianku dan bergegas mengunci pintu.
“kak Dani...mungkin kak Dani bener.“
“maksud kamu?“
“Ya...kak dani bener kalo cinta itu butuh proses. Tapi…itu berarti cinta kejam. Cinta itu sombong“
“loh…kok lo jadi sentimental gini, Nad. Kenapa? tell me dong!
“jadi gini, kak…”
“eh…bentar-bentar!!serobot kak dani memotong pembicaraanku.
Uh..dasar nggak sopan!! Ninggalin orang yang lagi ngomong! Aku berjalan keluar lorong kost an. Hari ini rencananya aku bakal rapat dengan Edo. Edo Fandinata. Pimpinan redaksi majalah kampus. kCowok yang entah kenapa membuat jantungku berdegub kencang ketika pertama kali melihatnya. Membuat peredaran darahku seolah mengalir dua kali lipat. Tapi...kenapa kesempatan buat deket dengan Edo nggak dateng-dateng. Aku berharap hari ini, presentasi film dokumenter sukses!!
Tin!! Tin!!
Suara motor Kak dani mengagetkanku.
“mo nebeng nggak??“ tanya kak dani ditambah senyum khasnya.
“nggak!!makasih!!“
“loh..kok jadi jutek gini!tadi sentimentil, sekarang jutek!!!lo cewek bukan sih, Nad“
“duh...brisik!! sekali nggak ya enggak!!“
“yaudah...kakak berangkat dulu yaw..dada bye-bye.“
@@@
Ruang rapat redaksi masih terkunci. Baru aku satu-satunya yang datang. Mungkin aku terlalu bersemangan buat menampilkan yang terbaik untuk edo. Aku ingin dunia tahu kalo aku bisa mendapatkan kesempatan. Kesempatan but dekat dengan pangeran yang selau membuat aku salah tingkah di depannya. Aku harus kendalikan emosiku. Aku harus fokus saat presentasi nanti.
Aku mengarahkan pandanganku ke luar ruangan. Motor King warna biru itu sudah terparkir. Itu artinya, my prince udah dating.
“hai…kamu?”
“ nadia, gue nadia, Do?”
“iya, lo nadia. Hai nad…oya, gue setuju banget kalo redaksi majalah kita bikin film documenter kampus. Gue super duper setuju.” Katanya dengan senyum yang bener-bener buat aku jatuh cinta. Tak lama, edo membuka pintu ruang rapat redaksi.
“nad...sebelumnya sori banget soalnya tmen-temen nggak bisa ikut rapat presentasi. Nggak apa-apa kan?“
„“em...it’s oke, Do. Nggak apa-apa. Ini konsep yang gue rancang.” Aku menyodorkan beberapa paper planning film documenter.
“great!! Lo emang cerdas. Smart girl!! Dan gue percayain lo yang jadi sutradara. Gimana?”
Oh my god!! Gue sutradara!! Dan itu artinya kesempatan gue sama edo akan datang. Cinta…I’m coming.
“nad..nadya? hallo? Lo ngelamun?”
“ng..nggak, Do. Gue Cuma lagi mikirin rencana sytting!” kataku yang sebenaernya boong.
“ yaudah.. gue belom sarapan tadi. Gue mau sarapan dulu. Lo ada kelas pagi ini?”
“nggak.gue masuk ntar siang”
“yaudah…mending lo ikut gue sarapan. Sekalian traktir karena lo udh bikini de keren tentang film.”
Aku nggak nyangka..ternyata otakku yang tadinya Cuma buat hal-hal formal sekarang berkembang ke arah hal-hal kreatif sesuai majalah. Ya...tentunya ini butuh proses buat ngonsep otakku ini jadi lebih anak muda. Ternya teori sebab akibat bener, jika kita berusaha kita akan dapatkan hasilnya. Siapa yang menanam, dia akan memetik buah. Aku pun begitu. Thanks god!!
Kunikmati sarapan nasi goreng chiken wings kesukaanku. Ternyata selera kami sama, aku dan edoi sama-sama suka nasi goreng chiken wings. Dan bagi seorang cewek sepertiku..ini adalah moment yang nggak terlupakan seumur hidup. Kau bisa bayangkan gimana rasanya jika perasaan yang tadinya sepihk kini mulai tumbuh. Dan itu yang kurasakan sekarang. I’m fall in love.
@@@
Tok..tok..tok...
Kudengar ada yang mengetok pintu. Siapa ya? Ah..paling kak dani.
dan bener..
“hai, nad...“
“hai, kak. Oiya...aku ada cerita nich...“
“eit…ntar dulu, nad. Kita ceritanya di warung sate aja ya.”
“nggak ah…aku lagi bokek.” Kataku sambil menutup pintu.
“tunggu Nad…Kakak yang traktir.” Seru kak dani dari luar.
Aku segera mengambil jaketku. Malam ini tumben-tumbenan kak dani traktir makan. Biasanya juga di minta masakin mie. Uh..dasar!! tapi nggk pa-pa deh...sekalian aku mo cerita sama kak dani tentang tadi pagi.
„“kak...bawa motornya lambet banget. Kayak cewek baru belajar naek motor.“ protesku di belkang kak dani.
„“yaudah..nih..kakak nguebut.“ Seketika kak dani menambah kecepatan dan wooowww....
Aku paling seneng makan seate. Apalagi sate ayam. It’s my favourite food!!
“loh…kok kak dani nggak makan.” Kataku setelah menghabiskan lima tusuk sate.
“kakak nggak suka sate. Kamu lupa ya.“
“aku lupa kak..abisnya kak Dani itu nggak terkenal, jadi nggak penting-penting amat.“
“uh..dsar klamu nad. Udah ditraktiris masih aja ngeledek. Dasar parasit. Mau ditraktirin..mu dianterin...“ ledek Kak dani sambil nyanyi ala gita gutawa.
Selesai makan, kami langsung ninggalin warung sate.
Kak dani payah. Masak cuma nungguin aku doang. Itumah bukan makan-makan, tapi makan sambil ditunggyuin. Emang aku anak kecil. Coba kalo malem ini jlan ke TK deket kost. Kan enak maen prosotan. Trus ngidupin kembang api kayak childhood.
“mo kemana, kak?” kataku saat ka dani membelokkan motornya ke pertigaan.
Aku tersenyum. Perasaan tadi aku ngomong dalam hari. Tapi..kenapa kak dani bisa tahu kalo aku mau ke TK.
“anak TK. Udah sampe. Anak TK mau maen prosotan kan“ ledeknya sambil mematikan mesin motor.
Tanpa disuruh kak Dani pun, aku sudah ngacir duluan di prosotan dan seperti biasa aku memandang bintang-bintang kecil yang jumlahnya ribuah di langit malam.
“oya, kak...ternyata apa yang Kak dani bilang dulu bener. Cinta itu butuh proses. Sekarang pun gitu. Aku harus mencipatakan kesempatan untuk deket5 denagn Edo. Hari ini kesempatan itu datang. I ‚m happy so much...“
“bagus dong!berarti kuping kak dani bisa normal lagi. Nggak akan denger curhatan kamu yang aneh itu.
O...
Jika ada yang bertanya tentang siapa yang percaya teori sebab akibat!! Maka akulah jawabannya. Aku, seorang Marela Antika Aku sangat percaya tentang itu karena menurutku itu simpel dan superduper masuk akal. Ya, jika ingin juara, rajinlah belajar. Jika ingin kaya, rajinlah bekerja. Simple. hal itu yang membuatku betah dengan teori sebab akibat. aku percaya bahwa jika kita menamam benih, kita akan menuai buah. Ya..aku yakin itu. Barang siapa yang berusaha, ia akan mendapatkan! Itulah sepotong kjalimat yang pernah kubac dalah ikhtisar materi pendidikan agama.
Sedikit pun tak terbayangkan bagiku dapat sekolah di sebuah sekolah unggulan. Di sinilah aku tumbuh menjadi manusia yng kompetitip. Tidak pernah meremehkan kesempatan kecil da sellu berupaya menjadi yamg terbauik. Mulanya keinginanku untuk sekolah disini hanyalah sekedar ikut-ikutan teman smpku yang beruang. Ku jalani prosedur penerimasaan siswa baru layaknya yang lain. Ikut tes, mengerjakan soal yang berbau aljabar, logazrisma, dan tidak ketinggalan soal-soal kalkulus yang mejelimet. Tes bahasa inggris pun sepertinya tidak mau kalah saingan. Khusu tes bahasa inggris kami mengdengarkan speaker yang benmar-benar speaker. Jujur, belum pernah aku mendengarkan lugat bahasa inggris sehalus dan sesopan orng yang berambut pirang itu.
Kenytaan yang harus kuterima ketika itu, ubakku melarang keras aku ikut tes.
“sudahlah, El. Kitoni tak naro duit. Jangan banyak kendak. Pening kepalo mikerkenyo!!“ kata ubak saat kuutarakan niatku ikut tes.
Aku terdiam. Kuperhatikan ubak waktu itu. Matanya layo dan berat. Brewoknya yang dulu selalu dicukur kini dibiarkan subur. Mungkin iniu karena koceknya tak cukup lagi untuk beli pisau cukur. Aku beranjak ke buri. Kutinggalkan Ubak yang masih guling-gulingan di bawah rumah. Ku naiki anak tangga-anak tangga dari kayu gelam. Ya, rumah kami rumah panggung. Jadi, kalau air rawa pasang alias musim hujan, kami tidak kebanjiran. Kami tidak perlu mengangkut barang-barang kami seperti yang dilakukan orang-orang jakarta. Toh, memang tak ada barang yang bisa dibawa.
Aku ke buri, sebuatan untuk bagian rumah yang berfungsi sebagai dapur. Kulihat ibuku sedang mencuci ikan gabus.
“mak, besok aku milu tes.“
Ibuku berhenti sejenak. Di lepaskannya nampan berisi ikan gabus yang sudah putih karena dikuliti.
“oyo, lajulah. Tapi berapo duitnyo?kagi aku pinjamkan di wak tema“
“tak usah, mak. Kato Pak Bahtera, aku tak ush mayar. Gratis!!” kataku tersenyum.
Senyum ibu kini ikut mengembang bersamaku. Aku yakin, di dunia ini masih ada orang baik. Dan yang terbaik adalah ibuku. Dialah yang bisa dijadikan tempat bertukar pikiran. Dialah yang pertamakali mengenalkanku huruf-huruf dan angka, bahkan aku lebih suka kalau belajar di rumah ketimbang di ajar oleh Bu Masturo yang bisanya hany “ini budi. Ini ibu budi“.
Besoknya, pagi-pagi sekali aku menyiapkan baju seragam smp. Setelah ibuku masak, aku mulai menaroh setrika besi di atas open minyak tanah. Yah, meski kami hidup di abad 21, semua peralatyan yang ada di rumah adalah barang-barang antik. Lampu minyak tanah, setrika besi, kompor minyak tanah. Anti bukan? Dan ini kami lakukan semenjak pindah dari rumah kami yang lama. Di rumah ini, tepatnya di ujung desa Meranjat. Kami memulai kehidupan tanpa hal-hal yang berbau listrik.
Pagi itu, aku masih sibuj menyetrikan. Menggosok helai demi helai seragai smp agar enak dilihat. Dari buri, terdengar suara seseorang memanggil namaku. Belum sempat aku menyahut, si yang punya suara tiba-tiba muncul.
“Ella?“ seru Topan.
Aku kajet. Kanapa Topan bisa ada di sini? Batinku. Aku mulai mengecilkan api kompor. Kulihat Topan begong. Matanya mengarah pada tanganku yang liahi memainkan setrika besi. Tadinya aku malu dengan barang antic yang sedang ku pegang. Tapi…apa boleh buat. Toh semua teman-teman di kelasku juga akan tahu kalau di rumahku tak ada listrik. Aku belajar ahnya dengan lamput minyak tanah.
Singhkat cerita, akhirnya aku menjadi bagian dari sekolah ungulan. Sekolah yang berebut anak-anak pejabat ingin memasukinya. Tapi…bukan dunia namanya kalau tanpa uang. Ya, ujung-ujungnya pasti duit. Daftar ulang, cuci foto, bolak-balik nyerakahkan formulir, perlengkapan ini-itu, semua membutuhkan uang. Hal ini yang membuat aku hampir menyerah dan semangatku kendor. Tapi umak!! Umakku!! Dia berusaha mencarikan uang. Berusaha agar anaknya ini dapat menjadi unggul seperti apa yang dilabelkan pada sekolahku. Umak…kau adalah wanita yang teramat aku cintai.
Sekarang adalah akhir dari studiku. Tiga bulan lagi aku akan meninggalkan seragam putih abu-abu. Meninggalkan masa-masa SMA yang nano-nano.
“jangan ngelamun, El“. Seru Bagas. Tiba-tiba.
“aku nggak ngelamun. Aku hanya...memandangan bintang. Apa nlangit di belahan dunia itu sama? Bagaimana langit-langit di Prancis, di Tokyo, di Sorbonne? Aku ingin tahu, Gas.“
Bagas tersenyum. Dia ikut duduk bersamaku di pagar sekolah. Ya, kami. Ku dan bagas sering memandang bintang di malam hari setelah makan malam di dapur umum. Ini adalah moment yang aku senangi. Kadang kami bertiga, aku, bagas, juga Ratih. Kadang ku dan Bagas. Kadang-kadang juga aku sendirian.
“what do you think about tonight?“
“ as usually…nothing happen. I’m still in Indonesia. But I believed, next time I’ll look the sky in Eiffel.”
“wow…that’s cool. Bye the way, how you can go there?”
“by knowledge!!” kataku tersenyum
“smart girl!!” bagas balas tersenyum.
Aku masih memandang langit malam. Kehidupan asrama pastinya akan menjadi sejarah yang takkan pernah terhapuskan.
“may I know something, Ela?”
“ yeah, about what?”
“ how about someone that you love. Come on, tell me and I’ll help you to find it.”
“look at me, bagas. I don’t have many time for dating. And I afraid if there is someone who love me so much, I can’t give my love so much, too.”
“and remember, bagas…don’t find love…”
“let’s love find you, that’s why it’s called fall in love” sambung bagas.
Bagas tersenyum. Kurasakan gerakan angin malam yang menerpa wajahku.
“hello? Any question, Mr. Bagas Radika?“ kataku bergurau.
“no, princess!!” katanya tersenyum.
“ayo balik ke ruang kelas, El. Entar ada penampakan lagi. Kabarnya di asrama banyak penampakan. Hihi….” Saran bagas dan kini dai berjalan duluan di depanku.
***
“come on, princess!! Time is over!!“
“duh…bentar!!”
“ya ampun…lelet banget sih!! Kata bagas sambil melirik jam tangannya.
“Yaudh duluan aja!!” kataku sambil memakai sepatu. Dasar tidak kenal basa basi!! sbagas itu benar-benar pergi duluan! Dasar nggak solid!
Aku berjlan dari asrama ke dapur umum. Sbenarnya ini sudah telat!! Tyidak keburu ikut apel pagi. Tapi, apa mu dikata, perut keroncongan jug nggak baik. Ya khan?
“pagi, kak .“ Sapa Aldo, adik kelasku yang satu asrama sama Noval.
Hah, Noval? Jangan-jangan....
Aku menoleh ke arag ujam sembilan. Tepat di salah-satu meja makan, Noval lagi sarapan
Kendalikan ekspresi wajahmu, Ela. Biasa aja, batinku.
Setelah mengambil makanan, aku mencari kursi untuk duduk. Semua penuh. Beberapa kursi memang ada yang kosong, tapi itu mengarh ke lapangan sekolh...bisa-bisa langsung ketahuan pak Anton!! Gimana ya?
Dari kaca jendela dapur umum, sosok pak anton benmr-benar muncul. Biasanya dia merazia murid-murid yng tidak apel pagi. Gawat, belum sempat makan malah dirazia. Mau taroh di mana mukaku. Seorang ela, siswa berprestasi tingkat propinsi masuk buku catatan sekolah!!noi way!! Tak ada dalam kamus seorang Marela Antika!!!
“kak…cepat pindah!!“ kata Noval tiba-tiba dan membawa nampan sarapanku.
Aku mengikuti jejak novel. Lri dri incaran pak anton yang merazia di dapur umum. Noval mengarah ke rumah pak Mukti, penjaga sekolah yang ramah.
“val, katahuan nggak?”Tanya aldo saat kami datang.
“nggak untung aja!!”
“woi…pak anton, cuy!!” aldo menunduk.
Seketika tangan noval meraih kepalaku dan aku menunduk bersamanya. Tiba-tiba kurasakan peredaran drahku yang mulai tak teratur. Aku kini berad edalam rangkuhnanya. Kmi begitu dekt. Aku dan Noval. Kurasakan adrenalinku beredr begitu cepat. Jantungku yang norrmal kini menambah kecepatannya tanpa kukomandoi.
“pak anton sudah oergi, cuy!!kata aldo smbil mengintif.
Kami kembali berdiri dan duduk di kursi belakang.
“maaf ya, kak Ela!“
Aku terdiam. Ini adalh kebetulan terhebat yng pernah terjadi dalam hidupku. Dan ini bukanlah sekedar mimpi. Ini fakta.
Cowok di depanku ini adalah Noval Syah Reza.entah bagaimana prosesnya, aku kini benar-benar mengagiminya.bayangkan, apa yang akn anda lakukan jika seseorang mampir di mimpimu selama sepuluh kali berturut-turut? Padahal orang itu tidak kau kenal sebelumnya? Dan itulah yng terjadi padaku. Aku mengenal Noval dari mimpi. Mimpi yang kenapa harus terjadi padaku. Mimpi yang bukan ditujukan untuk gadis lain. Mimpi yang membuatku benar-benar mengaguminy. Benar-benra menginginkan kedektn sperti yang terjadi di mimpiku. Aku mengenalnya, tapi itu dalam mimpi. Karena di kehidupan nyata, dia adalah adik kelsku, bukan pangeran berkuda putih!!
Sedikit pun tak terbayangkan bagiku dapat sekolah di sebuah sekolah unggulan. Di sinilah aku tumbuh menjadi manusia yng kompetitip. Tidak pernah meremehkan kesempatan kecil da sellu berupaya menjadi yamg terbauik. Mulanya keinginanku untuk sekolah disini hanyalah sekedar ikut-ikutan teman smpku yang beruang. Ku jalani prosedur penerimasaan siswa baru layaknya yang lain. Ikut tes, mengerjakan soal yang berbau aljabar, logazrisma, dan tidak ketinggalan soal-soal kalkulus yang mejelimet. Tes bahasa inggris pun sepertinya tidak mau kalah saingan. Khusu tes bahasa inggris kami mengdengarkan speaker yang benmar-benar speaker. Jujur, belum pernah aku mendengarkan lugat bahasa inggris sehalus dan sesopan orng yang berambut pirang itu.
Kenytaan yang harus kuterima ketika itu, ubakku melarang keras aku ikut tes.
“sudahlah, El. Kitoni tak naro duit. Jangan banyak kendak. Pening kepalo mikerkenyo!!“ kata ubak saat kuutarakan niatku ikut tes.
Aku terdiam. Kuperhatikan ubak waktu itu. Matanya layo dan berat. Brewoknya yang dulu selalu dicukur kini dibiarkan subur. Mungkin iniu karena koceknya tak cukup lagi untuk beli pisau cukur. Aku beranjak ke buri. Kutinggalkan Ubak yang masih guling-gulingan di bawah rumah. Ku naiki anak tangga-anak tangga dari kayu gelam. Ya, rumah kami rumah panggung. Jadi, kalau air rawa pasang alias musim hujan, kami tidak kebanjiran. Kami tidak perlu mengangkut barang-barang kami seperti yang dilakukan orang-orang jakarta. Toh, memang tak ada barang yang bisa dibawa.
Aku ke buri, sebuatan untuk bagian rumah yang berfungsi sebagai dapur. Kulihat ibuku sedang mencuci ikan gabus.
“mak, besok aku milu tes.“
Ibuku berhenti sejenak. Di lepaskannya nampan berisi ikan gabus yang sudah putih karena dikuliti.
“oyo, lajulah. Tapi berapo duitnyo?kagi aku pinjamkan di wak tema“
“tak usah, mak. Kato Pak Bahtera, aku tak ush mayar. Gratis!!” kataku tersenyum.
Senyum ibu kini ikut mengembang bersamaku. Aku yakin, di dunia ini masih ada orang baik. Dan yang terbaik adalah ibuku. Dialah yang bisa dijadikan tempat bertukar pikiran. Dialah yang pertamakali mengenalkanku huruf-huruf dan angka, bahkan aku lebih suka kalau belajar di rumah ketimbang di ajar oleh Bu Masturo yang bisanya hany “ini budi. Ini ibu budi“.
Besoknya, pagi-pagi sekali aku menyiapkan baju seragam smp. Setelah ibuku masak, aku mulai menaroh setrika besi di atas open minyak tanah. Yah, meski kami hidup di abad 21, semua peralatyan yang ada di rumah adalah barang-barang antik. Lampu minyak tanah, setrika besi, kompor minyak tanah. Anti bukan? Dan ini kami lakukan semenjak pindah dari rumah kami yang lama. Di rumah ini, tepatnya di ujung desa Meranjat. Kami memulai kehidupan tanpa hal-hal yang berbau listrik.
Pagi itu, aku masih sibuj menyetrikan. Menggosok helai demi helai seragai smp agar enak dilihat. Dari buri, terdengar suara seseorang memanggil namaku. Belum sempat aku menyahut, si yang punya suara tiba-tiba muncul.
“Ella?“ seru Topan.
Aku kajet. Kanapa Topan bisa ada di sini? Batinku. Aku mulai mengecilkan api kompor. Kulihat Topan begong. Matanya mengarah pada tanganku yang liahi memainkan setrika besi. Tadinya aku malu dengan barang antic yang sedang ku pegang. Tapi…apa boleh buat. Toh semua teman-teman di kelasku juga akan tahu kalau di rumahku tak ada listrik. Aku belajar ahnya dengan lamput minyak tanah.
Singhkat cerita, akhirnya aku menjadi bagian dari sekolah ungulan. Sekolah yang berebut anak-anak pejabat ingin memasukinya. Tapi…bukan dunia namanya kalau tanpa uang. Ya, ujung-ujungnya pasti duit. Daftar ulang, cuci foto, bolak-balik nyerakahkan formulir, perlengkapan ini-itu, semua membutuhkan uang. Hal ini yang membuat aku hampir menyerah dan semangatku kendor. Tapi umak!! Umakku!! Dia berusaha mencarikan uang. Berusaha agar anaknya ini dapat menjadi unggul seperti apa yang dilabelkan pada sekolahku. Umak…kau adalah wanita yang teramat aku cintai.
Sekarang adalah akhir dari studiku. Tiga bulan lagi aku akan meninggalkan seragam putih abu-abu. Meninggalkan masa-masa SMA yang nano-nano.
“jangan ngelamun, El“. Seru Bagas. Tiba-tiba.
“aku nggak ngelamun. Aku hanya...memandangan bintang. Apa nlangit di belahan dunia itu sama? Bagaimana langit-langit di Prancis, di Tokyo, di Sorbonne? Aku ingin tahu, Gas.“
Bagas tersenyum. Dia ikut duduk bersamaku di pagar sekolah. Ya, kami. Ku dan bagas sering memandang bintang di malam hari setelah makan malam di dapur umum. Ini adalah moment yang aku senangi. Kadang kami bertiga, aku, bagas, juga Ratih. Kadang ku dan Bagas. Kadang-kadang juga aku sendirian.
“what do you think about tonight?“
“ as usually…nothing happen. I’m still in Indonesia. But I believed, next time I’ll look the sky in Eiffel.”
“wow…that’s cool. Bye the way, how you can go there?”
“by knowledge!!” kataku tersenyum
“smart girl!!” bagas balas tersenyum.
Aku masih memandang langit malam. Kehidupan asrama pastinya akan menjadi sejarah yang takkan pernah terhapuskan.
“may I know something, Ela?”
“ yeah, about what?”
“ how about someone that you love. Come on, tell me and I’ll help you to find it.”
“look at me, bagas. I don’t have many time for dating. And I afraid if there is someone who love me so much, I can’t give my love so much, too.”
“and remember, bagas…don’t find love…”
“let’s love find you, that’s why it’s called fall in love” sambung bagas.
Bagas tersenyum. Kurasakan gerakan angin malam yang menerpa wajahku.
“hello? Any question, Mr. Bagas Radika?“ kataku bergurau.
“no, princess!!” katanya tersenyum.
“ayo balik ke ruang kelas, El. Entar ada penampakan lagi. Kabarnya di asrama banyak penampakan. Hihi….” Saran bagas dan kini dai berjalan duluan di depanku.
***
“come on, princess!! Time is over!!“
“duh…bentar!!”
“ya ampun…lelet banget sih!! Kata bagas sambil melirik jam tangannya.
“Yaudh duluan aja!!” kataku sambil memakai sepatu. Dasar tidak kenal basa basi!! sbagas itu benar-benar pergi duluan! Dasar nggak solid!
Aku berjlan dari asrama ke dapur umum. Sbenarnya ini sudah telat!! Tyidak keburu ikut apel pagi. Tapi, apa mu dikata, perut keroncongan jug nggak baik. Ya khan?
“pagi, kak .“ Sapa Aldo, adik kelasku yang satu asrama sama Noval.
Hah, Noval? Jangan-jangan....
Aku menoleh ke arag ujam sembilan. Tepat di salah-satu meja makan, Noval lagi sarapan
Kendalikan ekspresi wajahmu, Ela. Biasa aja, batinku.
Setelah mengambil makanan, aku mencari kursi untuk duduk. Semua penuh. Beberapa kursi memang ada yang kosong, tapi itu mengarh ke lapangan sekolh...bisa-bisa langsung ketahuan pak Anton!! Gimana ya?
Dari kaca jendela dapur umum, sosok pak anton benmr-benar muncul. Biasanya dia merazia murid-murid yng tidak apel pagi. Gawat, belum sempat makan malah dirazia. Mau taroh di mana mukaku. Seorang ela, siswa berprestasi tingkat propinsi masuk buku catatan sekolah!!noi way!! Tak ada dalam kamus seorang Marela Antika!!!
“kak…cepat pindah!!“ kata Noval tiba-tiba dan membawa nampan sarapanku.
Aku mengikuti jejak novel. Lri dri incaran pak anton yang merazia di dapur umum. Noval mengarah ke rumah pak Mukti, penjaga sekolah yang ramah.
“val, katahuan nggak?”Tanya aldo saat kami datang.
“nggak untung aja!!”
“woi…pak anton, cuy!!” aldo menunduk.
Seketika tangan noval meraih kepalaku dan aku menunduk bersamanya. Tiba-tiba kurasakan peredaran drahku yang mulai tak teratur. Aku kini berad edalam rangkuhnanya. Kmi begitu dekt. Aku dan Noval. Kurasakan adrenalinku beredr begitu cepat. Jantungku yang norrmal kini menambah kecepatannya tanpa kukomandoi.
“pak anton sudah oergi, cuy!!kata aldo smbil mengintif.
Kami kembali berdiri dan duduk di kursi belakang.
“maaf ya, kak Ela!“
Aku terdiam. Ini adalh kebetulan terhebat yng pernah terjadi dalam hidupku. Dan ini bukanlah sekedar mimpi. Ini fakta.
Cowok di depanku ini adalah Noval Syah Reza.entah bagaimana prosesnya, aku kini benar-benar mengagiminya.bayangkan, apa yang akn anda lakukan jika seseorang mampir di mimpimu selama sepuluh kali berturut-turut? Padahal orang itu tidak kau kenal sebelumnya? Dan itulah yng terjadi padaku. Aku mengenal Noval dari mimpi. Mimpi yang kenapa harus terjadi padaku. Mimpi yang bukan ditujukan untuk gadis lain. Mimpi yang membuatku benar-benar mengaguminy. Benar-benra menginginkan kedektn sperti yang terjadi di mimpiku. Aku mengenalnya, tapi itu dalam mimpi. Karena di kehidupan nyata, dia adalah adik kelsku, bukan pangeran berkuda putih!!
MOZAIK-MOZAIK YANG BELUM TERSUSUN
Bab 1
Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijawab dengan logika. Misalnya cinta. Bagiku atau bagi sebagian orang di dunia ini, cinta seolah suatu perkara yang tak berujung hingga akhirnya banyak pujangga yang merasa bingung akan kata yang entah kapan munculnya. Dan sekarang...aku akan menjadi bagian dari kisah cintaku sendiri. Ah..tidak, tepatnya kisah cinta dan cita-cita karena aku meraih keduanya dan berusaha menggenggam keduanya secara bersama-sama.
Aku terlahir sebagai sosok yang berusaha menggapai cita-cita. Cita-cita. Kata yang sepertinya lekat betul ditempurung otakku. Dan terkadang cukup satu kali enter untuk memunculkannya secara otomatis di ingatanku. Tuhan, ini anugerah atau musibah? Entahlah. Tapi satu hal yang aku tahu, aku hidup untuk kehidupan yang lebih baik.
Aku yakin, tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bangga dengan kemiskinan, yang betah dengan kekurangan, yang menikmati krisis demi krisis. Kalau pun ada, toh pasti ia adalah sosok yang telah bosan dengan harta berkarung-karung, emas berpeti-peti,juga baju yang bejibun di dalam lemari. Lalu... menginginkan ketenangan setelah ketenaran yang ia miliki terlalu cukup. Yah...seperti kebanyakan yang diangkat menjadi sinopsis cerpen, novel, bahkan film layar lebar. Entahlah...satu yang aku tahu, tak ada yang betah dengan kemelaratan.
Begitu pun diriku. Tak banyak yang tahu kalau sedari umur 6 tahun, aku telah memiliki satu ambisi, yaitu menjadi orang kaya. Terdengar ambisius dan lebai. Tapi aku tak peduli. Kalau pada kenyataannya memang demikian, ya begitulah aku. Sejak aku tak punya mainan untuk bermain, sejak aku tak punya bacaan untuk dibaca, sejak aku tak punya pakaian untuk dipakai, sejak aku tak punya rumah untuk berteduh. Aku berjanji untuk bermain-main dengan roda kehidupan. Bila perlu aku sendiri yang akan memutarnya. Pikirku lancang kala itu.
Ah...tapi ambisi tinggallah ambisi. Seolah ban sepeda yang bocor, begitulah semangatku kian hari kian tak berisi. Rupanya peru t telah menelan pikiran bocah kecil kelas 4 SD. Dari sini aku paham, kita hidup juga perlu makan. Maka aku seolah melupakan ambisi yang entah kapan menjadi aksi.
Setiap hari aku berharap ada keluarga yang tak punya anak yang mau mengadopsiku. Aku ingin seperti Melin yang kini semakin diperhatikan papa dan mama barunya. Aku ingin seperti Dito yang kini tampangnya putih bersih karena diurus. Aku juga tak menolak menjadi Ratih yang diadosi pengusaha sukses di Jakarta. tapi...nasib ya nasib. Begitu orang dangdut bilang, aku tetaplah menjadi Kiki. Ya, Kiki tanpa embel-embel apapun.
“Sedang apa kamu, Ki?” tanya Bu Laras tiba-tiba.
Segera kututup buku tulis berkover batik coklat.
“lagi iseng, bu.” Jawabku bohong.
“em...iseng apa iseng. Kamu kok dar tadi khusuk banget. Lagi nulis apa hayo????”
“beneran, Buk. Saya nggak nulis apa-apa. Cuma iseng doang.” Kataku membalas guyonannya.
“serius juga nggak apa-apa toh, Ki. Yowes, kamu dipanggil Bu Ratna. Katanya penting.”
“oh,ya. Makasih buk. Bentar lagi saya ke sana.”
Bu laras, wanita tambun itu meninggalkanku sambil menuju ke daputr umum.
Lekas kutinggalkan pohon beringin tua, tempat aku biasa menuliskan semua yang ada di benakku.
Ruang kantor panti tampak sepi. Tak kudapati bayangan Bu Ratna. Hanya ada selembar surat edaran di meja beliau. Surat dari sekolahku. Dari warnanya, aku paham, itu adalah surat edaran dar kepala sekolah bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri. Ah, sudahlah....aku tak ingin membebani Bu Ratna dengan membiayaiku. Tidak. Terlalu lancang bagiku untuk meminta beliau membiayai kuliahku. Ini mungkin yang dinamakan ‘belum rejeki’.
“ki...” suara Bu ratna terdengar dari belakang.
Wanita bersahaja tu kini tersenyum padaku.
“ bagaimana? Kamu mau kuliah?”
Aku menggeleng.
“kenapa, Ki?”
“kalau masalahnya biaya, itu tak jadi masalah karena kepala sekolah kamu sudah bicara langsung dengan ibu bahwa kamu dapat beasiswa penuh. Bagaimana?” lanjut Bu ratna.
Aku tetap menggeleng.
“lantas?”
“ sebenarnya...saya ingin bekerja dulu, Bu.”
“kerja apa, ki?” kata bu ratna lembut.
“ apa aja, Bu. Yang penting saya nggak bisa bantu keuangan panti.”
Bu ratna tersenyum.
“ibu sengaja menyiapkan ini semua untukmu, Ki. Karena ibu yakin, kamu bisa.” Ucap bu Ratna sambil memegang bahuku.
“jangan bohongi dirimu sendiri,Ki. Ibu tahu, kamu masih punya cita-cita kan? Jadi, ibu harap, pikirkan masa depan kamu, ki.” Lanjut bu ratna dan meninggalkanku dengan selembar berwarna biru muda.
***
Sampai sore ini, aku belum juga memutuskan untuk mengambil beasiswa itu atau tidak. Ah, Jakarta. terlalu jauh dan kedengaran terlalu wah bagiku. Tapi, bagaimana dengan harapan Bu Ratna, harapan panti, juga kelanjutan pendidikan adik-adik jika aku kuliah?
“ Melamun terus.” Seru seseorang dibelakangku.
Aku tersadar. Kupikir hanya aku yang mengunjungi tepi pantai sore ini. Tapi, aku lupa, Rudi juga saban sore mencari karang di pesisir. Aku hanya tersenyum kecut. Sementara, dua meter dari batu tempatku berdiri, Rudi sudah bermandikan keringat yang bercampur asinnya air laut. Kupandangi sejenak teman sekelasku yang satu ini. Nama lengkapnya Tengku Rudi Putra Bengawan. Nama yang gagah untuk remaja laki-laki yang kulitnya gosong tersengat matahari. Tadinya, aku tak begitu dekat dengan bujang pesisir ini. Namun, nasib yang sama-sama wong cilik di sekolah paling elit membuat ikatan pertemanan dan persaudaraan di antara kami terjalin dengan sendirinya. Mungkin ini yang dinamakan spontan responsibility. Aku mendapati istilah itu di buku sosiologi umum saat ke perpustakaan bersama Rudi.
Sebagaimana eratnya jaring ikan yang ia rajut sendiri, begitulah gambaran rasa solidaritas Rudi terhadap keluarga pamannya. Diulang, keluarga pamannya. Ya, Rudi memang tinggal dengan pamannya karena sama sepertiku, Rudi pun adalah seorang yatim piatu. Yatim saat ayahnya di tembak GAM dan piatu saat Tsunami Melanda Aceh 10 tahun silam. Semuanya dengan lancar ia ceritakan padaku. Walaupun aku setengah menanggapinya, setengah tidak.
“kiki!!” serunya melambaikan tangan. Tampak ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.
“ada apa, Rud?”tanyaku sedikit penasaran.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan mengelilingiku.
“unik kan?” tanyanya saat menunjukkan gelang dari karang-karang kecil.
“lumayan.” Jawabku singkat.
“ambillah.” Ujarnya lalu kembali sibuk dengan jaring ikan di tengah pantai.
Aku hanya tersenyum. Rudi...Rudi. kau memang seniman. Bisa-bisanya memberiku sesuatu yang unik saat aku lagi ragu seperti ini.
“ki, tunggu bentar ya!” serunya sambil memberesi jaring-jaring ikan.
Aku mengangguk. Tak lama, Rudi sudah menemuiku di bibir pantai.
“ada masalah, ki?”
“jangan sok tahu!” jawabku sewot.
“loh, aku memang tahu apa yang ada dipikiranmu. Dari kerutan di dahimu, ada dua pilihan. Ya kan?” tebaknya.
Aku hanya menggangguk.
“sudahlah, tak perlu dikhawatirkan. Ambil saja beasiswa itu, beres bukan?”
“tak semudah itu, rud.”
“justru karena kau memikirannya sulit, maka masalah itu menjadi sulit.”
“tapi, aku tak percaya dngan istilah beasiswa penuh. Terlebih lagi sekolah yang menawarkan. Aku benar-benar tak bisa terima.”
“jadi karena itu? Bukankah kita sudah terbiasa melihatnya di sekolah?”
Aku diam sejenak.
“Rud, sudah sore. Aku mau pulang dulu. Makasih atas masukannya.”
Rudi hanya tersenyum. Senyum yang khas Rano karno karena tahi lalat yang ia miliki.
“thnaks ya Rudi karno!!” teriakku setelah agak jauh.
***
Terkadang, satu kata dari seorang sahabat dapat mengubah sejuta kalimat yang keluar. Begitulah. Rudi, temanku seperjuangan di SMA paling elit telah memberikan sesuatu yang merupakan klimaks dari keputusanku hari ini. Ya, sebuah keputusan yang membuat Bu ratna tersenyum mendengarnya, membuat adik-adik bersorak kegirangan, juga tentu saja membuat Rudi sendiri bangga karena usulnya diterima olehku. Besok, setelah satu minggu libur Ujian Nasional, akhirnya aku ke sekolah lagi. Bukan untuk ikut dalam aksi coret-coret seragam SMA tapi semata-mata ingin mengurus beasiswa penuh ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Pagi-pagi, seperti biasanya, setelah mengantar dadar gulung ke warung nasi Bu maryam, aku mengayuh sepeda menuju arah utara, ke jalan sekolahku. Tiga tahun, aku melewati jalan ini. Jalan yang setiap lobangnya memiliki kesan tersendiri. Ya, tentu saja berkesan. Lobang yang di depanku, satu meter dari tikungan adalah karya truk-truk kontainer yang memaksa masuk padahal aspal di sini tipis, sedangkan dua lubang yang mirip, itu adalah karya tukang ojek yang tabrakan dengan mobil pick up. Sementara, lubang-lubang kecil yang berjarang 5 meter kemungkinan besar karena jalan ini sudah rentah dimakan usia. Entah zaman presiden ke berapa, jalan ini direnovasi. Yang jelas, terlepas dari kesan jelek yang tersirat dari jalan ini, ada cerita cantik yang mengiringinya. Makanya, aku menamai jalan ini jalan cinta. Walaupun beribu kali Rudi memprotes, aku tak peduli. Inilah dia, jalan cinta!!!
Aku ingat betul. Waktu itu tepatnya, hari sabtu sekitar pukul tiga sore. Sehabis pulang sekolah, seperti biasa aku melewati jalan ini sebagai jalan pulang. Waktu itu musim hujan. Tentu saja sore itu menjadi sore yang mendung. Ditambah lagi suasana gerimis dan kilat nampak menyambar-nyambar. Sebenarnya, ada rasa ngeri ketika meleati jalan ini sendirian. Ya, sendirian karena sobatku Rudi tidak masuk sekolah lantaran pamannya, Mang Dulah masuk rumah sakit. Akhirnya, sore itu aku pulang sendiri. Jalan yang becek membuatku menggiring sepeda tanpa berani menaikinya karena sangat licin.
Tepat di persimpangan jalan yang terdapat lobang besar karya truk-truk kontainer yang pernah kuceritakan tadi, di situlah aku melihat sosok Duta Samudera Wijaya, salah satu kaum adam yang memiliki ketampanan sekelas bintang-bintang Hollywood. Benar-benar bertalenta di bidang apapun. Dialah bintang sekolah.
Kuperhatikan dengan seksama, memastikan mataku tidak salah lihat. Dan ternyata benar, sosok yang berteduh di bawah pohon akasia itu adalah Duta.
Aku ragu untuk menyapanya karena sepintas pun aku tak pernah bertemu secara langsung dengannya. Apalagi bicara. Aku tak pernah. Yang aku tahu adalah profil-profilnya di majalah dinding atau koran sekolah, selebihnya, he just a dream.
Jalan yang aku lewati ini adalah jalanan sepi yang tak ada rumah penduduknya. Ini adalah jalan pintas yang beraspal tipis. Lalu, semakin dekat aku dengan sang bintang, semakin tak ingin aku menyapanya. Aku tak menoleh sedikitpun saat sepedaku melewati mobil sedan warna merahnya. Yang aku lihat dari sikap tubuhnya, Duta sepertinya sedang mnelpon. Mungkin menelpon bengkel untuk memperbaiki mobilnya yang mogok di jalan yang tak bernama ini.
“hei!!” suara ngebas itu menyeru.
“hei! permisi!!”
Aku menoleh. Wajar itu terlihat panik. Tapi, dibandingkan aku, justru akulah yang terlihat panik.
“ya. Kenapa?” tanyaku.
Segera Duta menghampiriku yang terpaku di tengah jalan.
“ini jalan apa?”tanyanya sambil memegang handphone.
“entahlah...”jawabku singkat.
“o...jadi kamu nggak tahu?”
Aku mengangguk.
“ya, sudah. Makasih”.balasnya tersenyum.
Aku kembali menggiring sepeda.
“sorry, kamu anak SMA Galileo juga??”
“iya.”
“kalo gitu, kita satu sekolah. Perkenalkan. Aku Duta. Duta Sam..”
“panggil aja, Duta.” Katanya mengulurkan tangan.
“ya, saya kiki.” Kataku balik meyalaminya.
Sesaat aku tampak kaku. Ternyata, apa yang biasa disajikan sinetron-sinetron layar kaca tak selamanya mirip kehidupan. Toh, si Duta yang kaya, pintar, dan tampan adalah sosok yang cukup friendly. Betul kan??
Tanpa kuduga. Hari itu, hari pertama ada teman di SMA, selain Rudi, yang mampir ke Panti. Dia adalah Duta. Aku tak tahu persis apa yang dia pikirkan tentang tempat tinggalku, tapi beberapa saat setelah perkenalan di jalan penuh lobang, berteduh sebentar sambil menemaninya membetuli mobil secara otodidak dan kubantu dengan pengetahuan otomotif di fisika dasar, akhirnya sedan warna merah itu kini dapat berjalan lagi.
Hari itu benar-benar menjadi hari bersejarah. Hari ketika aku bisa mempunyai satu lagi teman baru yang berbeda dari golongan elit lainnya.
Namun, keceriaan itu tak bertahan lama. Duta, sang bintang sekolah itu harus ikut program pertukaran pelajar ke Perancis. Dan sampai sekarang, aku belum pernah bertemu dengannya lagi. Tak pernah. Mungkin dia akan lupa denganku. Bahkan dengan tanah airnya sendiri karena kudengar dia akan melanjutkan ke Kanada mengambil Study of Medicine. Lalu timbul pertanyaan di tempurung otakku, kenapa rata-rata para pelajar berotak encer negeri ini lebih mempercayakan masa depannya dengan negara lain ketimbang negeri sendiri?? Begitu pun para orang tua yang kaya raya tentu tak segan-segan menyekolahkan anaknya di luar negeri. Tak peduli anaknya benar-benar pintar atau Cuma ikut-ikutan pintar. Tapi, yang penting judulnya adalah “ Luar Negeri!!”
Aku tak peduli apakah Duta akan melupakanku. Apakah kami akan bertemu lagi atau tidak. Tapi satu yang aku peduli, yakni aku tak mungkin melupakannya. Melupakan keramahtamaannya, kebaikannya, kedermawanannya. Dan bagaimana bisa aku melupakan saat dia begitu akrab dengan adik-adikku di panti asuhan. Buku-buku sumbangannya untuk panti, juga saat dia mau berbagi ilmu denganku, mau berbagi cerita, dan mau menjadikan aku temannya. Aku berharap, banyak Duta-Duta lain di luar sana yang seperti Duta Sam..begitulah dia memenggal namanya tanpa mau diikuti nama Pak Wijaya, konglomerat yang memiliki 4 perusahaan diller mobil di Jakarta.
***
Tanpa terasa, sepanjang jalan menuju ke sekolah, aku telah begitu banyak membuka file di otakku yang bertuliskan Duta. Kini, pintu gerbang sekolah sudahdi depan mata. Mobil-mobil mulai berbaris di lapangan parkir. Sementara, seperti biasa sepeda kutaruh di kantin belakang.
“kamu beruntung ya, Ki.” Ucap Pak Naga, sang kepala sekolah yang selalu sinis.
“kamu sekolah di sini karena beasiswa, sekarang kuliah karena beasiswa. Benar-benar mujur” ujarnya sambil membenarkan letak kacamatanya.
“bukan mujur, pak. Tapi saya berusaha. Mendapat nilai baik.”jawabku singkat.
“ya.ya. bapak tahu. Jangan tersinggung dulu.”
“silakan tanda tangan”
Kubaca sekilas kertas bermaterai dari pak naga. Setelah itu, aku baru menandatanganinya.
“besok ada wawancara di gedung Chandra Foundation. Kamu langsung saja ke sana. Besok jadwalnya kamu dengan Jelita Gunawan Prestika. Anak kelas 3.2. kenal?”
Aku mengangguk.
“baiklah. Ini surat pengantarnya.”
“terima kasih, Pak.”
“sama-sama. Semoga berhasil.”
Aku keluar dengan perasaan legah. Legah karena telah berhadapan dengan pak Naga yang terkadang kata-katanya lumayan panas seperti api yang disemburkan naga.
Jelita? Nama itu. Benar-benar membuatku was-was. Terakhir aku berhadapan dengannya saat tragedi pelajaran Olahraga. Tepatnya saat materi pelajaran Praktik bola volly. Aku tak tahu apa salahku. Tiba-tiba dia menghampiriku dan bola volly itu langsung mengenai mukaku. Benar-benar murahan tingkah Lita dan genknya. Dan aku tak menyangka lagi kalau pikiran mereka begitu kekanak-kanakan. Dengan mengalaskan aku telah merebut Duta, mereka mnjadikanku bulan-bulanan yang begitu mudah ditertawakan. Tapi, semenjak kejadian itu pula, aku mulai tahu, aku mulai berani bicara dan melawan mereka. Dan semenjak tragedi pelajaran Olahraga itu, Dutalah yang mendukungku utuk berani melawan mereka. Melawan anak-anak manja yang hanya mengandalkan uang saku orang tua!!
Setelah dari ruang kepala sekolah, aku pun langsung menuju perpustakaan. Kulihat pos surat yang diletakkan di depan perpustakaan. Tak ada surat untukku. Tak ada balasan dari pihak penerbit. Ah...apa tulisanku memang tak layak muat?? Ruang perpustakaan tak begitu ramai. Tak seramai lapangan basket yang dikerumuni anak-anak kelas 1 dan 2 yang ingin melihat perform terakhir dari Lita. Sebuah poster meriah mengambil tempat di majalah dinding dengan judul “the best of Jelita Gunawan Prestika”.hahahai...aku tertawa membacanya. Terkadang aneh. Banyak orang di sekolah ini yang mengaku dirinya artis. Padahal masuk tivi pun belum pernah.
Aku paling suka di bangku ini. Bangku yang tenang. Tempat aku menuliskan banyak hal yang aku saksikan dengan semua panca inderaku. Aku menulis, menghabiskan waktu dengan membaca, juga sesekali mendengarkan curhatan dari Tengku Rudi.
Hari ini, aku ingin menghabiskan waktu di sekolah dengan duduk manis di bangku ini. Membaca beberapa refrensi berbahasa inggris supaya aku bisa terlihat lebih intelek saat interview besok.
***
]
Jangan lupa, kutunggu di Beautiful York, sore ini jam 5. okeh?
Prof. Tengku Rudi Putra Bangawan,M.A.
Begitulah pesan yang tertulis pada sehelai kertas di meja beajarku saat aku baru sampai di kamar. Jam 5. Baiklah, kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan Rudi.
***
Beautiful York. Begitulah aku dan sahabatku Rudi menamai tempat ini. Tepi pantai yang masih jauh dari tangan-tangan jahil manusia. Tempat yang biasa aku temui setelah mengambil dagangan dadar gulung di warung Bu maryam. Aku senang di sini. aku tenang di sini. Dan di sinilah tempat aku sering menulis selain di pohon beringin tua di depan panti. Indah memang. Apalagi sore-sore, kau akan melihat pemandangan kawanan burung-burung putih pulang ke sarangnya, menandakan petang dan mengisyaratkan malam akan menutupi cerahnya siang. Andai aku punya handycame atau kamera, aku pasti telah menjadikan pemandangan di beautiful York sebagai objek fotoku. Bila perlu aku akan membuat sebuah film dokumenter alam. Ah, kenapa anak-anak elit di SMA tidak brpikiran sama denganku?? Tapi, biarpun aku tak punya alat yang serba digital, cukup bagiku untuk menikmati lukisan Rudi sebagai penggantinya. Dari awal, aku sudah mengatakan bahwa Rudi itu seniman. Seperti yang sering ia muat diujung namanya M.A master Art. Amin.
Kukira lukisan Rudi jauh lebih canggih dari jepretan kamera. Ah, sudahlah. Jika dia tahu aku banyak memujinya, dia akan menjadi tak memiliki masa dan melayang ke udara karena senangnya.
***
“beli dadar, Neng.” Ujar seseorang yang sudah bisa kutebak.
“berapa kek?” tanyaku.
“satu saja, nek. Kakek nggak punya uang.uhuk..uhuk..tiga hari kakek tidak makan..uhuk—uhuk” katanya pura-pura batuk.
“sudah-sudah. To the poin saja. Apa yang akan kau tunjukkan tengku Rudi?”
“wah...ada yang penasaran!!” tebaknya sambil mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
“eit..tunggu dulu.”
“ada syaratnya. Ucapkanlah doa yang ingin raih.”
“terlalu basa-basi,Rud”
“pokoknya harus!!” protesnya.
Aku menuruti instruksi Rudi. Dia selalu saja ngotot! Lalu, terbesit doa supaya aku sukses dalam interview besok. Bisa ke jakarta, Kuliah, dan lulus dengan predikat paling wahid dan membawa serta semua keluarga di panti saat aku wisuda. Dan tentu saja harapan supaya foto wisudaku terpampang di surat kabar sebagai mahasiswi berprestasi fakultas kedokteran. Tidak hanya itu, impian ku berlanjut dengan mengambil S2 beasiswa ke kanada. Bila perlu bertemu dengan Duta, sahabatku yang menimba ilmu di Study of Madecine.
“Sudah!!Sudah!!jangan diteruskan!! Ujar Rudi yang membuyarkan semuanya.
“loh??”
Dari bibir pantai, aku dan rudi menuju tempat paling indah untuk melihat matahari terbenam, yaitu batu besar yang lapang di tengah pantang.
“bukalah!” perintah Rudi.
Aku membuka bungkusan kresek hitam itu. Kucium sesuatu yang wangi sekali. Sebelum kubuka kotak yang ada di dalamnya, aku membaca sehelai kertas berukir. Pasti ini hand made si anak aceh ini. Pikirku sambil melihat ekspresi Rudi yang datar.
Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur. Sukses selalu!!!!
Oh. Begitu manis kejutan darimu sobat. Andai Rudi berjenis kelamin perempuan, tentu aku sudah memeluknya sebagai ucapan terima kasih yang amat sangat dariku. Beruntung aku punya sahabat sepertimu, Rudi.
“thank you so much. I don’t know, what I have to say.”
“don’t say anything. Just follow the time. It’s your.”
Kubuka bungkusan dalam kotak. Teras masih panas.
“martabak manis??” tanyaku sambil tertawa.
“like this???”ujar rudi tersenyum
“I don’t have any reason to say not!!” jelasku riang.
Hahai. Aneh juga. Tapi ini adalah hari ulang tahun yang beda. Padahal, aku sendiri lupa kalau hari ini aku ulang tahun. Terima kaih banyak Rudi. Batinku sambil mengunyah martabak kacang yang masih panas. Senja yang indah...
BAB 2
Aku merupakan penggemar Andrea Hirata. Apalagi saat ia menulis “Tuhan tahu tapi menunggu”. Lewat novel-novelnya, aku belajar untuk menulis. Aku belajar untuk dekat dengannya lewat tulisannya. Sama halnya saat Andrea Hirata mengagumi Roma Irama, begitulah aku mengaguminya sekarang. Mungkin suatu saat kelak, jika aku menjadi penulis, ada juga yang bisa mnjadikan aku orang yang dikagumi. Ya, suatu saat.
Tok..tok..tok..
“sudah siap, Ki?”seru Bu ratna dari balik pintu kamar.
“iya, Bu. Sebentar.”
Segera kupasang dasi seragam SMA. Hari ini seperti hari dimana tokoh Ikal dalam Edensor ingin wawancara S2 ke Sorbonne. Semoga aku bisa senasib dengan si tokoh utama itu.
Setiap pagi, aktivitas di panti asuhan selalu ramai. Ramai, ribut, namun masih teratur. Begitulah. Jika kamu adalah orang yang maniak kesunyian, mungkin kau takkan betah berada di sini. Bayangkan. Pagi-pagi, pukul empat, setiap kamar sudah rapi. Tak ada lagi yang bermalas-malasan. Apalagi masih berkunjung ke pulau kapuk. Jadi, semuanya disiplin. Besar , kecil, mau SD, SMP, atau SMA semua harus rapi. Tapi, aku paling kagum dengan Bu Laras. Wanita tambun itu adalah koki paling wahid di Panti. Dengan biaya yang pas-pasan, dia bisa memasakkan kami komplit, walaupun sederhana. Dia lebih pandai memanajemen keuangan dari pada para sarjana acounting.
“hayo-hayo. Diam dulu semuanya. Ririn. Tita. Kaka. Dara. Susi. Waduh. Hayo duduk-duduk!!” seru Bu ratna di meja makan.
“anak-anak. Hari ini, Kak Kiki ada tes beasiswa. Jadi, ayo kita doakan semoga hari ini kak Kiki sukses. Oke?”
denagn khusuk, Ahmad, yang paling rajin sholatnya memimpin doa. Kuresapi ayat demi ayat yang keluar dari bocah kelas 6 SD itu. Tak terasa, butiran hangat mengalir dari kelopak mataku.
“hati-hati ya, Kak!!”seru si kecil Aya yang masih TK.
Aku tersenyum dan melambaian tangan. Kuputuskan untuk naik bis. Jadi, lebih cepat sampai ke tempat wawancara ketimbang harus bersepeda.
Tin!!! Tin!! Suara klakson motor mengagetkaku.
“Ojek, Neng??” tawarnya dari belakang.
“Nggak, Bang. Makasih!” seruku masih berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
“ waduh. Kiki. Tunggu!!”
Suara itu?
“Rudi??”
“kenapa? Kaget?”
“iyalah. Motor siapa?”
“motor pinjaman. Hehe” katanya enteng.
Sejak kapan si Rudi bisa bawa motor? Pikirku.
“oke, let’s go!!!!”
Dengan ragu, aku dibonceng Rudi yang baru kali ni aku tahu kalau dia bisa bawa motor.
“eh, Ki. Kalau kau lulus interview, kau harus traktir aku. Okeh?”
Aku mengangguk dalam hati aku bersyukur.
***
Chandra Fondation.
Suasana dalam gedung berlantai 3 ini begitu modern. Desain dan tata ruangnya seperti ebanyakan kantor-kantor di dalam tivi. Andai suatu saat nanti aku bekerja dalam ruangan senyaman kantor ini, tentu saja aku akan betah berlama-lama untuk lembur kerja.
“katrok! Biasa aja kali. Ingat, janga
Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijawab dengan logika. Misalnya cinta. Bagiku atau bagi sebagian orang di dunia ini, cinta seolah suatu perkara yang tak berujung hingga akhirnya banyak pujangga yang merasa bingung akan kata yang entah kapan munculnya. Dan sekarang...aku akan menjadi bagian dari kisah cintaku sendiri. Ah..tidak, tepatnya kisah cinta dan cita-cita karena aku meraih keduanya dan berusaha menggenggam keduanya secara bersama-sama.
Aku terlahir sebagai sosok yang berusaha menggapai cita-cita. Cita-cita. Kata yang sepertinya lekat betul ditempurung otakku. Dan terkadang cukup satu kali enter untuk memunculkannya secara otomatis di ingatanku. Tuhan, ini anugerah atau musibah? Entahlah. Tapi satu hal yang aku tahu, aku hidup untuk kehidupan yang lebih baik.
Aku yakin, tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang bangga dengan kemiskinan, yang betah dengan kekurangan, yang menikmati krisis demi krisis. Kalau pun ada, toh pasti ia adalah sosok yang telah bosan dengan harta berkarung-karung, emas berpeti-peti,juga baju yang bejibun di dalam lemari. Lalu... menginginkan ketenangan setelah ketenaran yang ia miliki terlalu cukup. Yah...seperti kebanyakan yang diangkat menjadi sinopsis cerpen, novel, bahkan film layar lebar. Entahlah...satu yang aku tahu, tak ada yang betah dengan kemelaratan.
Begitu pun diriku. Tak banyak yang tahu kalau sedari umur 6 tahun, aku telah memiliki satu ambisi, yaitu menjadi orang kaya. Terdengar ambisius dan lebai. Tapi aku tak peduli. Kalau pada kenyataannya memang demikian, ya begitulah aku. Sejak aku tak punya mainan untuk bermain, sejak aku tak punya bacaan untuk dibaca, sejak aku tak punya pakaian untuk dipakai, sejak aku tak punya rumah untuk berteduh. Aku berjanji untuk bermain-main dengan roda kehidupan. Bila perlu aku sendiri yang akan memutarnya. Pikirku lancang kala itu.
Ah...tapi ambisi tinggallah ambisi. Seolah ban sepeda yang bocor, begitulah semangatku kian hari kian tak berisi. Rupanya peru t telah menelan pikiran bocah kecil kelas 4 SD. Dari sini aku paham, kita hidup juga perlu makan. Maka aku seolah melupakan ambisi yang entah kapan menjadi aksi.
Setiap hari aku berharap ada keluarga yang tak punya anak yang mau mengadopsiku. Aku ingin seperti Melin yang kini semakin diperhatikan papa dan mama barunya. Aku ingin seperti Dito yang kini tampangnya putih bersih karena diurus. Aku juga tak menolak menjadi Ratih yang diadosi pengusaha sukses di Jakarta. tapi...nasib ya nasib. Begitu orang dangdut bilang, aku tetaplah menjadi Kiki. Ya, Kiki tanpa embel-embel apapun.
“Sedang apa kamu, Ki?” tanya Bu Laras tiba-tiba.
Segera kututup buku tulis berkover batik coklat.
“lagi iseng, bu.” Jawabku bohong.
“em...iseng apa iseng. Kamu kok dar tadi khusuk banget. Lagi nulis apa hayo????”
“beneran, Buk. Saya nggak nulis apa-apa. Cuma iseng doang.” Kataku membalas guyonannya.
“serius juga nggak apa-apa toh, Ki. Yowes, kamu dipanggil Bu Ratna. Katanya penting.”
“oh,ya. Makasih buk. Bentar lagi saya ke sana.”
Bu laras, wanita tambun itu meninggalkanku sambil menuju ke daputr umum.
Lekas kutinggalkan pohon beringin tua, tempat aku biasa menuliskan semua yang ada di benakku.
Ruang kantor panti tampak sepi. Tak kudapati bayangan Bu Ratna. Hanya ada selembar surat edaran di meja beliau. Surat dari sekolahku. Dari warnanya, aku paham, itu adalah surat edaran dar kepala sekolah bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri. Ah, sudahlah....aku tak ingin membebani Bu Ratna dengan membiayaiku. Tidak. Terlalu lancang bagiku untuk meminta beliau membiayai kuliahku. Ini mungkin yang dinamakan ‘belum rejeki’.
“ki...” suara Bu ratna terdengar dari belakang.
Wanita bersahaja tu kini tersenyum padaku.
“ bagaimana? Kamu mau kuliah?”
Aku menggeleng.
“kenapa, Ki?”
“kalau masalahnya biaya, itu tak jadi masalah karena kepala sekolah kamu sudah bicara langsung dengan ibu bahwa kamu dapat beasiswa penuh. Bagaimana?” lanjut Bu ratna.
Aku tetap menggeleng.
“lantas?”
“ sebenarnya...saya ingin bekerja dulu, Bu.”
“kerja apa, ki?” kata bu ratna lembut.
“ apa aja, Bu. Yang penting saya nggak bisa bantu keuangan panti.”
Bu ratna tersenyum.
“ibu sengaja menyiapkan ini semua untukmu, Ki. Karena ibu yakin, kamu bisa.” Ucap bu Ratna sambil memegang bahuku.
“jangan bohongi dirimu sendiri,Ki. Ibu tahu, kamu masih punya cita-cita kan? Jadi, ibu harap, pikirkan masa depan kamu, ki.” Lanjut bu ratna dan meninggalkanku dengan selembar berwarna biru muda.
***
Sampai sore ini, aku belum juga memutuskan untuk mengambil beasiswa itu atau tidak. Ah, Jakarta. terlalu jauh dan kedengaran terlalu wah bagiku. Tapi, bagaimana dengan harapan Bu Ratna, harapan panti, juga kelanjutan pendidikan adik-adik jika aku kuliah?
“ Melamun terus.” Seru seseorang dibelakangku.
Aku tersadar. Kupikir hanya aku yang mengunjungi tepi pantai sore ini. Tapi, aku lupa, Rudi juga saban sore mencari karang di pesisir. Aku hanya tersenyum kecut. Sementara, dua meter dari batu tempatku berdiri, Rudi sudah bermandikan keringat yang bercampur asinnya air laut. Kupandangi sejenak teman sekelasku yang satu ini. Nama lengkapnya Tengku Rudi Putra Bengawan. Nama yang gagah untuk remaja laki-laki yang kulitnya gosong tersengat matahari. Tadinya, aku tak begitu dekat dengan bujang pesisir ini. Namun, nasib yang sama-sama wong cilik di sekolah paling elit membuat ikatan pertemanan dan persaudaraan di antara kami terjalin dengan sendirinya. Mungkin ini yang dinamakan spontan responsibility. Aku mendapati istilah itu di buku sosiologi umum saat ke perpustakaan bersama Rudi.
Sebagaimana eratnya jaring ikan yang ia rajut sendiri, begitulah gambaran rasa solidaritas Rudi terhadap keluarga pamannya. Diulang, keluarga pamannya. Ya, Rudi memang tinggal dengan pamannya karena sama sepertiku, Rudi pun adalah seorang yatim piatu. Yatim saat ayahnya di tembak GAM dan piatu saat Tsunami Melanda Aceh 10 tahun silam. Semuanya dengan lancar ia ceritakan padaku. Walaupun aku setengah menanggapinya, setengah tidak.
“kiki!!” serunya melambaikan tangan. Tampak ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.
“ada apa, Rud?”tanyaku sedikit penasaran.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan mengelilingiku.
“unik kan?” tanyanya saat menunjukkan gelang dari karang-karang kecil.
“lumayan.” Jawabku singkat.
“ambillah.” Ujarnya lalu kembali sibuk dengan jaring ikan di tengah pantai.
Aku hanya tersenyum. Rudi...Rudi. kau memang seniman. Bisa-bisanya memberiku sesuatu yang unik saat aku lagi ragu seperti ini.
“ki, tunggu bentar ya!” serunya sambil memberesi jaring-jaring ikan.
Aku mengangguk. Tak lama, Rudi sudah menemuiku di bibir pantai.
“ada masalah, ki?”
“jangan sok tahu!” jawabku sewot.
“loh, aku memang tahu apa yang ada dipikiranmu. Dari kerutan di dahimu, ada dua pilihan. Ya kan?” tebaknya.
Aku hanya menggangguk.
“sudahlah, tak perlu dikhawatirkan. Ambil saja beasiswa itu, beres bukan?”
“tak semudah itu, rud.”
“justru karena kau memikirannya sulit, maka masalah itu menjadi sulit.”
“tapi, aku tak percaya dngan istilah beasiswa penuh. Terlebih lagi sekolah yang menawarkan. Aku benar-benar tak bisa terima.”
“jadi karena itu? Bukankah kita sudah terbiasa melihatnya di sekolah?”
Aku diam sejenak.
“Rud, sudah sore. Aku mau pulang dulu. Makasih atas masukannya.”
Rudi hanya tersenyum. Senyum yang khas Rano karno karena tahi lalat yang ia miliki.
“thnaks ya Rudi karno!!” teriakku setelah agak jauh.
***
Terkadang, satu kata dari seorang sahabat dapat mengubah sejuta kalimat yang keluar. Begitulah. Rudi, temanku seperjuangan di SMA paling elit telah memberikan sesuatu yang merupakan klimaks dari keputusanku hari ini. Ya, sebuah keputusan yang membuat Bu ratna tersenyum mendengarnya, membuat adik-adik bersorak kegirangan, juga tentu saja membuat Rudi sendiri bangga karena usulnya diterima olehku. Besok, setelah satu minggu libur Ujian Nasional, akhirnya aku ke sekolah lagi. Bukan untuk ikut dalam aksi coret-coret seragam SMA tapi semata-mata ingin mengurus beasiswa penuh ke salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.
Pagi-pagi, seperti biasanya, setelah mengantar dadar gulung ke warung nasi Bu maryam, aku mengayuh sepeda menuju arah utara, ke jalan sekolahku. Tiga tahun, aku melewati jalan ini. Jalan yang setiap lobangnya memiliki kesan tersendiri. Ya, tentu saja berkesan. Lobang yang di depanku, satu meter dari tikungan adalah karya truk-truk kontainer yang memaksa masuk padahal aspal di sini tipis, sedangkan dua lubang yang mirip, itu adalah karya tukang ojek yang tabrakan dengan mobil pick up. Sementara, lubang-lubang kecil yang berjarang 5 meter kemungkinan besar karena jalan ini sudah rentah dimakan usia. Entah zaman presiden ke berapa, jalan ini direnovasi. Yang jelas, terlepas dari kesan jelek yang tersirat dari jalan ini, ada cerita cantik yang mengiringinya. Makanya, aku menamai jalan ini jalan cinta. Walaupun beribu kali Rudi memprotes, aku tak peduli. Inilah dia, jalan cinta!!!
Aku ingat betul. Waktu itu tepatnya, hari sabtu sekitar pukul tiga sore. Sehabis pulang sekolah, seperti biasa aku melewati jalan ini sebagai jalan pulang. Waktu itu musim hujan. Tentu saja sore itu menjadi sore yang mendung. Ditambah lagi suasana gerimis dan kilat nampak menyambar-nyambar. Sebenarnya, ada rasa ngeri ketika meleati jalan ini sendirian. Ya, sendirian karena sobatku Rudi tidak masuk sekolah lantaran pamannya, Mang Dulah masuk rumah sakit. Akhirnya, sore itu aku pulang sendiri. Jalan yang becek membuatku menggiring sepeda tanpa berani menaikinya karena sangat licin.
Tepat di persimpangan jalan yang terdapat lobang besar karya truk-truk kontainer yang pernah kuceritakan tadi, di situlah aku melihat sosok Duta Samudera Wijaya, salah satu kaum adam yang memiliki ketampanan sekelas bintang-bintang Hollywood. Benar-benar bertalenta di bidang apapun. Dialah bintang sekolah.
Kuperhatikan dengan seksama, memastikan mataku tidak salah lihat. Dan ternyata benar, sosok yang berteduh di bawah pohon akasia itu adalah Duta.
Aku ragu untuk menyapanya karena sepintas pun aku tak pernah bertemu secara langsung dengannya. Apalagi bicara. Aku tak pernah. Yang aku tahu adalah profil-profilnya di majalah dinding atau koran sekolah, selebihnya, he just a dream.
Jalan yang aku lewati ini adalah jalanan sepi yang tak ada rumah penduduknya. Ini adalah jalan pintas yang beraspal tipis. Lalu, semakin dekat aku dengan sang bintang, semakin tak ingin aku menyapanya. Aku tak menoleh sedikitpun saat sepedaku melewati mobil sedan warna merahnya. Yang aku lihat dari sikap tubuhnya, Duta sepertinya sedang mnelpon. Mungkin menelpon bengkel untuk memperbaiki mobilnya yang mogok di jalan yang tak bernama ini.
“hei!!” suara ngebas itu menyeru.
“hei! permisi!!”
Aku menoleh. Wajar itu terlihat panik. Tapi, dibandingkan aku, justru akulah yang terlihat panik.
“ya. Kenapa?” tanyaku.
Segera Duta menghampiriku yang terpaku di tengah jalan.
“ini jalan apa?”tanyanya sambil memegang handphone.
“entahlah...”jawabku singkat.
“o...jadi kamu nggak tahu?”
Aku mengangguk.
“ya, sudah. Makasih”.balasnya tersenyum.
Aku kembali menggiring sepeda.
“sorry, kamu anak SMA Galileo juga??”
“iya.”
“kalo gitu, kita satu sekolah. Perkenalkan. Aku Duta. Duta Sam..”
“panggil aja, Duta.” Katanya mengulurkan tangan.
“ya, saya kiki.” Kataku balik meyalaminya.
Sesaat aku tampak kaku. Ternyata, apa yang biasa disajikan sinetron-sinetron layar kaca tak selamanya mirip kehidupan. Toh, si Duta yang kaya, pintar, dan tampan adalah sosok yang cukup friendly. Betul kan??
Tanpa kuduga. Hari itu, hari pertama ada teman di SMA, selain Rudi, yang mampir ke Panti. Dia adalah Duta. Aku tak tahu persis apa yang dia pikirkan tentang tempat tinggalku, tapi beberapa saat setelah perkenalan di jalan penuh lobang, berteduh sebentar sambil menemaninya membetuli mobil secara otodidak dan kubantu dengan pengetahuan otomotif di fisika dasar, akhirnya sedan warna merah itu kini dapat berjalan lagi.
Hari itu benar-benar menjadi hari bersejarah. Hari ketika aku bisa mempunyai satu lagi teman baru yang berbeda dari golongan elit lainnya.
Namun, keceriaan itu tak bertahan lama. Duta, sang bintang sekolah itu harus ikut program pertukaran pelajar ke Perancis. Dan sampai sekarang, aku belum pernah bertemu dengannya lagi. Tak pernah. Mungkin dia akan lupa denganku. Bahkan dengan tanah airnya sendiri karena kudengar dia akan melanjutkan ke Kanada mengambil Study of Medicine. Lalu timbul pertanyaan di tempurung otakku, kenapa rata-rata para pelajar berotak encer negeri ini lebih mempercayakan masa depannya dengan negara lain ketimbang negeri sendiri?? Begitu pun para orang tua yang kaya raya tentu tak segan-segan menyekolahkan anaknya di luar negeri. Tak peduli anaknya benar-benar pintar atau Cuma ikut-ikutan pintar. Tapi, yang penting judulnya adalah “ Luar Negeri!!”
Aku tak peduli apakah Duta akan melupakanku. Apakah kami akan bertemu lagi atau tidak. Tapi satu yang aku peduli, yakni aku tak mungkin melupakannya. Melupakan keramahtamaannya, kebaikannya, kedermawanannya. Dan bagaimana bisa aku melupakan saat dia begitu akrab dengan adik-adikku di panti asuhan. Buku-buku sumbangannya untuk panti, juga saat dia mau berbagi ilmu denganku, mau berbagi cerita, dan mau menjadikan aku temannya. Aku berharap, banyak Duta-Duta lain di luar sana yang seperti Duta Sam..begitulah dia memenggal namanya tanpa mau diikuti nama Pak Wijaya, konglomerat yang memiliki 4 perusahaan diller mobil di Jakarta.
***
Tanpa terasa, sepanjang jalan menuju ke sekolah, aku telah begitu banyak membuka file di otakku yang bertuliskan Duta. Kini, pintu gerbang sekolah sudahdi depan mata. Mobil-mobil mulai berbaris di lapangan parkir. Sementara, seperti biasa sepeda kutaruh di kantin belakang.
“kamu beruntung ya, Ki.” Ucap Pak Naga, sang kepala sekolah yang selalu sinis.
“kamu sekolah di sini karena beasiswa, sekarang kuliah karena beasiswa. Benar-benar mujur” ujarnya sambil membenarkan letak kacamatanya.
“bukan mujur, pak. Tapi saya berusaha. Mendapat nilai baik.”jawabku singkat.
“ya.ya. bapak tahu. Jangan tersinggung dulu.”
“silakan tanda tangan”
Kubaca sekilas kertas bermaterai dari pak naga. Setelah itu, aku baru menandatanganinya.
“besok ada wawancara di gedung Chandra Foundation. Kamu langsung saja ke sana. Besok jadwalnya kamu dengan Jelita Gunawan Prestika. Anak kelas 3.2. kenal?”
Aku mengangguk.
“baiklah. Ini surat pengantarnya.”
“terima kasih, Pak.”
“sama-sama. Semoga berhasil.”
Aku keluar dengan perasaan legah. Legah karena telah berhadapan dengan pak Naga yang terkadang kata-katanya lumayan panas seperti api yang disemburkan naga.
Jelita? Nama itu. Benar-benar membuatku was-was. Terakhir aku berhadapan dengannya saat tragedi pelajaran Olahraga. Tepatnya saat materi pelajaran Praktik bola volly. Aku tak tahu apa salahku. Tiba-tiba dia menghampiriku dan bola volly itu langsung mengenai mukaku. Benar-benar murahan tingkah Lita dan genknya. Dan aku tak menyangka lagi kalau pikiran mereka begitu kekanak-kanakan. Dengan mengalaskan aku telah merebut Duta, mereka mnjadikanku bulan-bulanan yang begitu mudah ditertawakan. Tapi, semenjak kejadian itu pula, aku mulai tahu, aku mulai berani bicara dan melawan mereka. Dan semenjak tragedi pelajaran Olahraga itu, Dutalah yang mendukungku utuk berani melawan mereka. Melawan anak-anak manja yang hanya mengandalkan uang saku orang tua!!
Setelah dari ruang kepala sekolah, aku pun langsung menuju perpustakaan. Kulihat pos surat yang diletakkan di depan perpustakaan. Tak ada surat untukku. Tak ada balasan dari pihak penerbit. Ah...apa tulisanku memang tak layak muat?? Ruang perpustakaan tak begitu ramai. Tak seramai lapangan basket yang dikerumuni anak-anak kelas 1 dan 2 yang ingin melihat perform terakhir dari Lita. Sebuah poster meriah mengambil tempat di majalah dinding dengan judul “the best of Jelita Gunawan Prestika”.hahahai...aku tertawa membacanya. Terkadang aneh. Banyak orang di sekolah ini yang mengaku dirinya artis. Padahal masuk tivi pun belum pernah.
Aku paling suka di bangku ini. Bangku yang tenang. Tempat aku menuliskan banyak hal yang aku saksikan dengan semua panca inderaku. Aku menulis, menghabiskan waktu dengan membaca, juga sesekali mendengarkan curhatan dari Tengku Rudi.
Hari ini, aku ingin menghabiskan waktu di sekolah dengan duduk manis di bangku ini. Membaca beberapa refrensi berbahasa inggris supaya aku bisa terlihat lebih intelek saat interview besok.
***
]
Jangan lupa, kutunggu di Beautiful York, sore ini jam 5. okeh?
Prof. Tengku Rudi Putra Bangawan,M.A.
Begitulah pesan yang tertulis pada sehelai kertas di meja beajarku saat aku baru sampai di kamar. Jam 5. Baiklah, kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan Rudi.
***
Beautiful York. Begitulah aku dan sahabatku Rudi menamai tempat ini. Tepi pantai yang masih jauh dari tangan-tangan jahil manusia. Tempat yang biasa aku temui setelah mengambil dagangan dadar gulung di warung Bu maryam. Aku senang di sini. aku tenang di sini. Dan di sinilah tempat aku sering menulis selain di pohon beringin tua di depan panti. Indah memang. Apalagi sore-sore, kau akan melihat pemandangan kawanan burung-burung putih pulang ke sarangnya, menandakan petang dan mengisyaratkan malam akan menutupi cerahnya siang. Andai aku punya handycame atau kamera, aku pasti telah menjadikan pemandangan di beautiful York sebagai objek fotoku. Bila perlu aku akan membuat sebuah film dokumenter alam. Ah, kenapa anak-anak elit di SMA tidak brpikiran sama denganku?? Tapi, biarpun aku tak punya alat yang serba digital, cukup bagiku untuk menikmati lukisan Rudi sebagai penggantinya. Dari awal, aku sudah mengatakan bahwa Rudi itu seniman. Seperti yang sering ia muat diujung namanya M.A master Art. Amin.
Kukira lukisan Rudi jauh lebih canggih dari jepretan kamera. Ah, sudahlah. Jika dia tahu aku banyak memujinya, dia akan menjadi tak memiliki masa dan melayang ke udara karena senangnya.
***
“beli dadar, Neng.” Ujar seseorang yang sudah bisa kutebak.
“berapa kek?” tanyaku.
“satu saja, nek. Kakek nggak punya uang.uhuk..uhuk..tiga hari kakek tidak makan..uhuk—uhuk” katanya pura-pura batuk.
“sudah-sudah. To the poin saja. Apa yang akan kau tunjukkan tengku Rudi?”
“wah...ada yang penasaran!!” tebaknya sambil mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
“eit..tunggu dulu.”
“ada syaratnya. Ucapkanlah doa yang ingin raih.”
“terlalu basa-basi,Rud”
“pokoknya harus!!” protesnya.
Aku menuruti instruksi Rudi. Dia selalu saja ngotot! Lalu, terbesit doa supaya aku sukses dalam interview besok. Bisa ke jakarta, Kuliah, dan lulus dengan predikat paling wahid dan membawa serta semua keluarga di panti saat aku wisuda. Dan tentu saja harapan supaya foto wisudaku terpampang di surat kabar sebagai mahasiswi berprestasi fakultas kedokteran. Tidak hanya itu, impian ku berlanjut dengan mengambil S2 beasiswa ke kanada. Bila perlu bertemu dengan Duta, sahabatku yang menimba ilmu di Study of Madecine.
“Sudah!!Sudah!!jangan diteruskan!! Ujar Rudi yang membuyarkan semuanya.
“loh??”
Dari bibir pantai, aku dan rudi menuju tempat paling indah untuk melihat matahari terbenam, yaitu batu besar yang lapang di tengah pantang.
“bukalah!” perintah Rudi.
Aku membuka bungkusan kresek hitam itu. Kucium sesuatu yang wangi sekali. Sebelum kubuka kotak yang ada di dalamnya, aku membaca sehelai kertas berukir. Pasti ini hand made si anak aceh ini. Pikirku sambil melihat ekspresi Rudi yang datar.
Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur. Sukses selalu!!!!
Oh. Begitu manis kejutan darimu sobat. Andai Rudi berjenis kelamin perempuan, tentu aku sudah memeluknya sebagai ucapan terima kasih yang amat sangat dariku. Beruntung aku punya sahabat sepertimu, Rudi.
“thank you so much. I don’t know, what I have to say.”
“don’t say anything. Just follow the time. It’s your.”
Kubuka bungkusan dalam kotak. Teras masih panas.
“martabak manis??” tanyaku sambil tertawa.
“like this???”ujar rudi tersenyum
“I don’t have any reason to say not!!” jelasku riang.
Hahai. Aneh juga. Tapi ini adalah hari ulang tahun yang beda. Padahal, aku sendiri lupa kalau hari ini aku ulang tahun. Terima kaih banyak Rudi. Batinku sambil mengunyah martabak kacang yang masih panas. Senja yang indah...
BAB 2
Aku merupakan penggemar Andrea Hirata. Apalagi saat ia menulis “Tuhan tahu tapi menunggu”. Lewat novel-novelnya, aku belajar untuk menulis. Aku belajar untuk dekat dengannya lewat tulisannya. Sama halnya saat Andrea Hirata mengagumi Roma Irama, begitulah aku mengaguminya sekarang. Mungkin suatu saat kelak, jika aku menjadi penulis, ada juga yang bisa mnjadikan aku orang yang dikagumi. Ya, suatu saat.
Tok..tok..tok..
“sudah siap, Ki?”seru Bu ratna dari balik pintu kamar.
“iya, Bu. Sebentar.”
Segera kupasang dasi seragam SMA. Hari ini seperti hari dimana tokoh Ikal dalam Edensor ingin wawancara S2 ke Sorbonne. Semoga aku bisa senasib dengan si tokoh utama itu.
Setiap pagi, aktivitas di panti asuhan selalu ramai. Ramai, ribut, namun masih teratur. Begitulah. Jika kamu adalah orang yang maniak kesunyian, mungkin kau takkan betah berada di sini. Bayangkan. Pagi-pagi, pukul empat, setiap kamar sudah rapi. Tak ada lagi yang bermalas-malasan. Apalagi masih berkunjung ke pulau kapuk. Jadi, semuanya disiplin. Besar , kecil, mau SD, SMP, atau SMA semua harus rapi. Tapi, aku paling kagum dengan Bu Laras. Wanita tambun itu adalah koki paling wahid di Panti. Dengan biaya yang pas-pasan, dia bisa memasakkan kami komplit, walaupun sederhana. Dia lebih pandai memanajemen keuangan dari pada para sarjana acounting.
“hayo-hayo. Diam dulu semuanya. Ririn. Tita. Kaka. Dara. Susi. Waduh. Hayo duduk-duduk!!” seru Bu ratna di meja makan.
“anak-anak. Hari ini, Kak Kiki ada tes beasiswa. Jadi, ayo kita doakan semoga hari ini kak Kiki sukses. Oke?”
denagn khusuk, Ahmad, yang paling rajin sholatnya memimpin doa. Kuresapi ayat demi ayat yang keluar dari bocah kelas 6 SD itu. Tak terasa, butiran hangat mengalir dari kelopak mataku.
“hati-hati ya, Kak!!”seru si kecil Aya yang masih TK.
Aku tersenyum dan melambaian tangan. Kuputuskan untuk naik bis. Jadi, lebih cepat sampai ke tempat wawancara ketimbang harus bersepeda.
Tin!!! Tin!! Suara klakson motor mengagetkaku.
“Ojek, Neng??” tawarnya dari belakang.
“Nggak, Bang. Makasih!” seruku masih berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
“ waduh. Kiki. Tunggu!!”
Suara itu?
“Rudi??”
“kenapa? Kaget?”
“iyalah. Motor siapa?”
“motor pinjaman. Hehe” katanya enteng.
Sejak kapan si Rudi bisa bawa motor? Pikirku.
“oke, let’s go!!!!”
Dengan ragu, aku dibonceng Rudi yang baru kali ni aku tahu kalau dia bisa bawa motor.
“eh, Ki. Kalau kau lulus interview, kau harus traktir aku. Okeh?”
Aku mengangguk dalam hati aku bersyukur.
***
Chandra Fondation.
Suasana dalam gedung berlantai 3 ini begitu modern. Desain dan tata ruangnya seperti ebanyakan kantor-kantor di dalam tivi. Andai suatu saat nanti aku bekerja dalam ruangan senyaman kantor ini, tentu saja aku akan betah berlama-lama untuk lembur kerja.
“katrok! Biasa aja kali. Ingat, janga
Langganan:
Postingan (Atom)

